TAPAK | Telaah Akhir Pekan — Edisi 3
Surabaya (hidayatullahjatim.com) – Ahad pagi di Keputih 15 itu sebenarnya bukan peristiwa besar. Keluarga Besar Hidayatullah Surabaya berkumpul di Kampus PT Lentera Jaya Madina. Mereka mengikuti Halaqah Usroh dengan tema “Toxic Family”. Tetapi yang menarik perhatian saya justru bukan temanya. Ada sesuatu yang lebih besar di balik pertemuan itu: sebuah pola pembinaan jamaah dan kader yang telah berjalan cukup panjang.
Menurut cerita salah seorang senior, Surabaya termasuk tempat awal dirumuskannya Halaqah sebagai pola pembinaan di lingkungan Hidayatullah. Disebut nama Almaghfurlah Ustaz Ainur Rofiq dan Ustaz Hasan Rofidi. Sejarah ini tentu menarik untuk ditelusuri dan didokumentasikan lebih serius. Sebab Halaqah kemudian bukan sekadar metode pertemuan, tetapi tumbuh menjadi bagian dari kultur pembinaan.
Mulanya sangat sederhana. Lima sampai sepuluh orang dalam satu kelompok. Halaqah Ula bertemu setiap pekan, sedangkan Wustho dua pekan sekali. Tempatnya tidak harus khusus. Bisa di masjid, di tempat kerja, bahkan dari rumah ke rumah. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki ruang pembinaan. Tidak ada kemewahan di sana. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting: kedekatan dan kesinambungan.
Lima orang lebih mudah saling mengenal daripada lima ratus orang. Sepuluh orang lebih mudah mengetahui siapa yang sedang menghadapi masalah. Di lingkaran kecil, seseorang bukan sekadar nama dalam daftar hadir. Ia adalah pribadi yang dikenal, didengar, diperhatikan, dan diingat ketika mulai menjauh.
Pembinaan kemudian diperluas. Sebulan sekali bapak-bapak memiliki Lailatul Ijtima’. Ibu-ibu memiliki Halaqah Gabungan. Dua bulan sekali bapak-bapak dan ibu-ibu berkumpul dalam Halaqah Usroh. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi semuanya menuju tujuan yang sama: meningkatkan kualitas pribadi, memperkuat silaturahmi, dan menjaga keberlangsungan pembinaan jamaah.
Kalau dilihat sebagai sebuah sistem, pola ini sebenarnya cukup lengkap. Ada pembinaan individu. Ada pembinaan jamaah. Ada ruang keluarga. Ada pertemuan kecil dan ada pertemuan yang lebih besar. Masing-masing tidak perlu saling mengambil fungsi. Justru karena berbeda, semuanya dapat saling menguatkan.
Yang juga menarik, pembinaan berlangsung dekat dengan kehidupan. Di masjid, di rumah, di tempat kerja. Artinya, kader tidak hanya dibina untuk menjadi baik ketika duduk dalam forum. Nilai pembinaan itu dibawa pulang. Dibawa ke tempat kerja. Dibawa ke tengah masyarakat. Di situlah pembinaan berubah menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan.
Sesekali pembinaan bahkan dilakukan di tempat wisata. Setahun sekali Halaqah Usroh dikemas dalam suasana usroh sekaligus refreshing. Ini kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya penting. Jamaah tidak mungkin hanya dipertemukan untuk mendengar materi. Mereka juga perlu berjalan bersama, makan bersama, berbincang tanpa agenda, dan menciptakan pengalaman bersama.
Sebab jamaah bukan sekadar kumpulan orang yang memiliki jadwal pertemuan. Jamaah adalah hubungan. Dan hubungan membutuhkan perjumpaan. Kalau perjumpaan semakin jarang, kedekatan akan berkurang. Kalau kedekatan berkurang, rasa memiliki pun perlahan bisa ikut hilang.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Organisasi sering kali mudah tergoda untuk membuat program baru. Setiap persoalan dijawab dengan kegiatan baru. Setiap tantangan melahirkan pelatihan baru. Padahal belum tentu yang kita perlukan selalu program baru. Bisa jadi yang kita perlukan adalah merawat kembali pola pembinaan yang sudah terbukti.
Sebab perkaderan tidak lahir dari banyaknya program. Kader lahir dari proses. Dari seorang pembina yang mengenal orang yang dibinanya. Dari pertemuan yang berlangsung terus-menerus. Dari nasihat yang mungkin diulang berkali-kali. Dari keteladanan yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari.
Zaman memang berubah. Generasi berubah. Tantangan kader juga berubah. Karena itu bentuk Halaqah tentu boleh berkembang. Materinya bisa diperbarui. Metodenya bisa dibuat lebih menarik. Teknologi bisa dimanfaatkan. Tetapi jangan sampai kita memperbarui bentuk sekaligus kehilangan ruhnya: ada yang membina, ada yang dibina, ada yang menemani, dan ada yang terus bertumbuh.
Yang perlu dirawat bukan sekadar jadwal Halaqah setiap pekan. Yang perlu dirawat adalah budaya membina. Budaya saling mengenal, saling mengingatkan, saling menjaga, dan saling mewariskan nilai. Sebab ketika budaya itu hidup, pembinaan akan berjalan meskipun program berganti dan zaman berubah.
Mungkin karena itu, sejarah Halaqah Surabaya penting untuk kembali dibaca. Bukan untuk bernostalgia. Bukan pula untuk mengatakan bahwa semua yang dilakukan masa lalu pasti lebih baik. Tetapi untuk bertanya: apa yang dahulu membuat pola ini mampu bertahan? Apa yang membuat orang mau hadir? Apa yang membuat pembina mau terus mendampingi? Dan apa yang membuat kader merasa menjadi bagian dari sebuah jamaah?
Pertanyaan itu menjadi penting ketika kita memasuki fase pergantian generasi. Kader lama tidak selamanya bisa berada di garis depan. Akan datang generasi baru dengan karakter, bahasa, dan tantangan yang berbeda. Kalau tidak ada sistem pembinaan yang kuat, pergantian generasi bisa berubah menjadi putusnya mata rantai.
Karena itu, jangan sampai kita sibuk mencari cara mencetak kader sebanyak-banyaknya, tetapi lupa menyediakan ruang agar kader tersebut tumbuh. Jangan hanya menghitung berapa orang yang mengikuti pelatihan, tetapi lihat berapa orang yang tetap bertumbuh setelah pelatihan selesai.
Ahad pagi di Keputih 15 akhirnya mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana. Kekuatan sebuah gerakan tidak selalu terlihat dari besarnya acara. Kadang justru berada di ruang kecil, ketika lima atau sepuluh orang duduk melingkar, bertemu secara rutin, saling mengenal, dan saling menjaga.
Jangan kehilangan lingkaran kecil itu.
Sebab dari lingkaran kecil itulah pribadi dibina, kader ditumbuhkan, jamaah diikat, dan nilai perjuangan diwariskan. Program boleh berubah. Generasi boleh berganti. Zaman boleh bergerak cepat. Tetapi selama budaya pembinaan tetap hidup, insyaallah mata rantai perjuangan tidak akan mudah putus.
.
