SURABAYA (hidayatullahjatim.com) – Di sebuah ruangan yang tertata anggun di Keputih, Surabaya, suasana Minggu pagi terasa sedikit berbeda. Sebanyak 300 lebih pasang mata dan hati berkumpul dalam ajang Halaqoh Usroh yang diselenggarakan oleh DPD Hidayatullah Kota Surabaya bersama PT Lentera Jaya Madina dan PD Muslimah Hidayatullah. Di balik hangatnya penyambutan dan kebersamaan yang terjalin, ada sebuah tema besar yang direnungkan bersama: “Waspada dengan Toxic Relationship dalam Rumah Tangga”.
Materi yang dibawakan oleh Ustadz Nur Huda, M.Pd. (Kadept Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah) ini seolah menjadi cermin jernih bagi setiap keluarga yang hadir. Pembahasannya menyentuh sudut-sudut kecil dalam rumah yang sering kali luput dari perhatian, namun berpotensi menyimpan luka.

Retakan Halus yang Sering Terabaikan
Dalam paparannya, Ustadz Nur Huda mengurai dampak emosional yang ditimbulkan oleh dinamika keluarga yang tidak sehat (toxic family). Dampak tersebut jarang muncul dalam bentuk ledakan seketika, melainkan menjelma menjadi luka senyap yang mengikis perlahan:
-
Penyusutan Diri: Munculnya rasa tidak berharga, hilangnya kepercayaan diri, hingga timbulnya kecemasan yang membuat seseorang menarik diri dari lingkungan.
-
Respon Emosional yang Terdistorsi: Sifat yang mudah tersulut emosi, impulsif, atau justru menjadi sangat cuek dan dingin terhadap sekitar.
-
Krisis Kepercayaan: Mengembangkan rasa curiga yang berlebihan, sulit mempercayai orang lain, serta memandang buruk institusi keluarga itu sendiri.
-
Kehilangan Kepribadian: Terjebak dalam pola selalu mengalah, menjadi penurut tanpa pendirian, atau sebaliknya, tumbuh menjadi pribadi yang posesif.
Daftar dampak tersebut menjadi pengingat bahwa kata-kata kasar atau sikap acuh di dalam rumah bukan sekadar persoalan kecil, melainkan benih yang dapat merusak fondasi jiwa para penghuninya.
Kembali pada Teladan Kemanusiaan
Sebagai penawar atas ancaman relasi yang merusak tersebut, narasi yang dibangun kembali diarahkan pada tuntunan Nabi Muhammad SAW. Landasan utama untuk membangun rumah tangga yang teduh sejatinya telah diwariskan melalui petunjuk-petunjuk yang ringkas namun mendalam:
“Barang siapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ustadz Nur Huda mengingatkan kembali petikan hadis mengenai akhlak terbaik seorang suami terhadap istrinya, bahaya perkataan yang diucapkan tanpa kepedulian, hingga keutamaan kelembutan yang selalu memperindah segala sesuatu.
Refleksi ini diperkuat oleh pengakuan Anas bin Malik RA yang hidup mendampingi Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Sepanjang waktu tersebut, tidak pernah terdengar kata kasar maupun bentakan kepada istri atau pembantunya, serta tidak pernah ada pertanyaan penuh cercaan atas apa yang dikerjakan maupun yang ditinggalkan. Sebuah keteladanan yang menunjukkan bahwa ketegasan tidak harus merenggut kelembutan.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 10.00 WIB ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Sebagaimana diungkapkan oleh Ustadz Nur Chalim, Lc., acara ini tidak hanya menyajikan materi yang relevan dengan dinamika keluarga masa kini, tetapi juga dikemas dengan kesiapan tempat dan suasana yang menghormati setiap tamu yang hadir.
Halaqoh Usroh kali ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen jeda untuk menguji kembali kadar kelembutan, komunikasi, dan kasih sayang di dalam rumah kita masing-masing.
Reporter: Adib
Editor: Aminudin
