NGAWI (hidayatullahjatim.com) -Jumat pagi, 31 Juli 2026, kami meninggalkan Surabaya menuju Ngawi. Tidak ada acara pelepasan yang meriah. Tidak ada spanduk besar. Tidak ada pula sambutan panjang. Kami hanya mengantar seorang pemuda ke tempat tugasnya. Namanya Nawawi. Kawan-kawannya memanggilnya Bang Awi. Ia berasal dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dan baru menyelesaikan pendidikan di STAI Luqman Al-Hakim Surabaya. Seperti banyak kader muda lainnya, setelah lulus ia tidak langsung memilih tempat yang paling dekat, paling nyaman, atau paling menjanjikan. Ia justru berangkat menuju tempat yang membutuhkan tenaga dan pengabdiannya.
Perjalanan menuju Ngawi memberi cukup waktu untuk berbicara. Jalanan kota perlahan berubah menjadi hamparan sawah, deretan rumah, warung kecil, dan kendaraan yang bergerak ke arah barat. Bang Awi membawa barang seperlunya. Beberapa pakaian, buku, dan perlengkapan pribadi. Tidak banyak. Yang ia bawa justru amanah yang lebih besar daripada barang di dalam tasnya. Di tempat baru nanti, ia akan mengajar, mendampingi santri, menyimak hafalan, sekaligus belajar hidup bersama masyarakat yang sebelumnya mungkin hanya ia kenal dari nama sebuah kabupaten.
Tempat tugasnya adalah Kampus 2 Hidayatullah Ngawi, Pondok Tahfidzul Quran Saidi Moelyowijoyo. Pondok itu belum lama berdiri. Usianya baru sekitar dua tahun. Namun, jumlah santrinya telah mencapai lebih dari 50 orang. Mereka datang untuk belajar dan menghafalkan Al-Qur’an. Kamar-kamarnya mulai penuh. Minat masyarakat juga terus tumbuh. Untuk lembaga yang masih muda, perkembangan itu tergolong cepat. Tetapi yang paling menarik dari pondok tersebut bukan hanya jumlah santri atau bentuk bangunannya. Yang lebih menarik justru nama yang dipasang di bagian depan: Saidi Moelyowijoyo.
Saya semula mengira nama itu hanyalah nama seorang pewakaf. Mungkin pemilik tanah. Mungkin pula tokoh masyarakat setempat. Ternyata kisahnya jauh lebih panjang. Sebelum menjadi nama pondok, Saidi Moelyowijoyo adalah nama seorang warga yang rumahnya pernah menjadi tempat pengajian. Sebelum berdiri bangunan pesantren, ada sebuah pertemuan kecil antara seorang dai dengan masyarakat. Sebelum terdengar suara puluhan anak menghafalkan Al-Qur’an, ada percakapan panjang tentang keyakinan, ibadah, keluarga, dan jalan menuju Tuhan.
Kisah itu bermula sekitar 1998. Ketika itu, Ustadz Muhammad Juweni mendapat amanah untuk berpindah dari Hidayatullah Sragen menuju Hidayatullah Ngawi. Perpindahan tugas memang biasa dalam organisasi kader. Seseorang ditempatkan di daerah tertentu sesuai kebutuhan dakwah. Namun, tempat baru selalu membawa persoalan baru. Ketika tiba di Ngawi, Ustadz Juweni harus membenahi keadaan internal pondok. Organisasi perlu ditata. Kader perlu dikuatkan. Kegiatan harus dihidupkan. Sarana juga masih terbatas. Ia bisa saja menghabiskan seluruh waktunya untuk urusan di dalam pesantren. Tetapi ia memilih tetap keluar menemui masyarakat.
Dakwah kepada masyarakat tidak selalu dilakukan melalui acara besar. Tidak selalu dengan panggung, pengeras suara, atau undangan berlembar-lembar. Kadang hanya berupa kunjungan ke rumah warga. Kadang percakapan setelah salat. Kadang pengajian dengan peserta yang tidak banyak. Dalam salah satu perjalanan itulah Ustadz Juweni bertemu dengan Pak Saidi. Seorang warga yang cukup berhasil dari sisi ekonomi. Rumahnya terbuka. Ia bersedia menyediakan tempat bagi masyarakat untuk belajar agama. Pengajian pun mulai berjalan di rumah tersebut.
Pengajian itu bukan pertemuan satu malam. Ustadz Juweni membina Pak Saidi dan masyarakat di sekitarnya selama kurang lebih sepuluh tahun. Mereka berjumpa, berbicara, berdiskusi, dan membangun kedekatan. Dari pengajian kecil itu tumbuh kepercayaan. Dari kepercayaan lahir persahabatan. Persahabatan itu tidak dibangun melalui perdebatan yang keras, melainkan melalui kesediaan untuk saling mendengar. Ada pergulatan pemahaman keagamaan yang harus dihadapi secara sabar, perlahan, dan hati-hati.
Pak Saidi bukan orang yang sama sekali jauh dari pembicaraan tentang Tuhan. Ia melakukan ibadah sebagaimana sebagian masyarakat Muslim pada umumnya. Namun, pemahaman keagamaannya ketika itu masih bercampur dengan ajaran kebatinan. Ia aktif dalam Paguyuban Ngesti Tunggal atau Pangestu. Dalam pandangannya, komunitas tersebut mengajarkan ketenangan, kebaikan, kebersamaan antarmanusia, serta pengenalan terhadap Tuhan. Ajaran itu dianggap cocok dengan pikiran dan jiwanya. Kecocokan tersebut membuatnya tidak sekadar menjadi peserta. Ia ikut mempelajari dan menyampaikan apa yang dipahaminya kepada lingkungan terdekat.
Pak Saidi dan istrinya, Ibu Simpen, dikaruniai sepuluh orang anak. Salah satunya adalah Sarjono Budi Santoso, yang kini akrab dipanggil Abah Sarjono. Ia merupakan anak kedelapan. Kedekatan Pak Saidi dengan lingkungan Pangestu ikut memberi warna dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam pemilihan beberapa nama anaknya. Bagi Pak Saidi, lingkungan tersebut bukan sekadar tempat berkumpul. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan batin dan pandangan hidup yang dipeliharanya selama bertahun-tahun.
Abah Sarjono masih mengingat kebiasaan ayahnya. Di rumah mereka terdapat musala. Seusai salat Magrib, Pak Saidi terkadang melanjutkan dengan laku tertentu yang diyakininya sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai anak, Abah Sarjono dan saudara-saudaranya melihat bahwa ayah mereka adalah orang baik, pekerja keras, dan suka menolong. Namun, mereka juga menyimpan kegelisahan terhadap beberapa tata cara dan pemahaman yang dirasakan belum sepenuhnya sesuai dengan tuntunan Islam.
Anak-anak Pak Saidi tidak ingin mempermalukan ayahnya. Mereka juga tidak ingin menghadapinya dengan pertengkaran. Mereka hanya berharap ada seseorang yang dapat menjelaskan persoalan agama dengan cara yang lembut dan dapat diterima. Pilihan mereka jatuh kepada Ustadz Juweni. Orang yang selama bertahun-tahun mengisi pengajian di rumah mereka. Orang yang tidak hanya dikenal sebagai penceramah, tetapi juga sebagai sahabat yang sabar mendampingi keluarga.
Di sinilah cara berdakwah menentukan hasil. Ustadz Juweni bisa saja datang dengan kalimat keras. Ia bisa langsung menyalahkan, memberi cap, lalu merasa telah menunaikan kewajiban. Tetapi ia tidak memilih cara itu. Ia mendengarkan. Ia memahami mengapa ajaran tentang ketenangan, kebaikan, dan kebersamaan menarik hati Pak Saidi. Dari titik itulah percakapan dimulai. Nilai-nilai yang dianggap baik tidak langsung dihancurkan, melainkan diarahkan. Penghambaan kepada Tuhan dijelaskan dalam kerangka tauhid. Penghormatan kepada guru diterangkan batasnya. Ketenangan jiwa diarahkan kepada ibadah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Perubahan tidak terjadi dalam satu malam. Keyakinan yang telah dipelihara bertahun-tahun tidak mudah dilepaskan. Ada kebiasaan. Ada lingkungan pergaulan. Ada pula harga diri yang harus dijaga. Ustadz Juweni memilih bersabar. Ia tidak memperlakukan Pak Saidi sebagai lawan. Ia memperlakukannya sebagai sahabat. Mereka terus berdiskusi. Bukan untuk menentukan siapa yang paling menang, tetapi untuk menemukan jalan yang paling benar dan paling menenteramkan.
Perubahan Pak Saidi terlihat semakin kuat setelah pulang dari menunaikan ibadah haji. Cara beribadahnya mulai disesuaikan dengan tuntunan Islam. Pemahaman tentang penghambaan kepada Allah semakin menguat. Nilai kebaikan yang dahulu dicarinya melalui berbagai laku batin tidak serta-merta hilang. Nilai itu justru memperoleh dasar yang lebih kokoh dalam ajaran tauhid dan akhlak Nabi. Hubungannya dengan Ustadz Juweni juga semakin erat. Bukan lagi sekadar hubungan antara guru dan jamaah. Keduanya telah menjadi sahabat.
Kedalaman persahabatan itu tampak dari pesan Pak Saidi kepada anak-anaknya. Ia berkata, “Nanti kalau saya meninggal, urus sesuai dengan arahan Ustadz Juweni.” Kalimatnya pendek. Namun, maknanya sangat dalam. Seseorang hanya akan menyerahkan urusan akhir hidupnya kepada orang yang benar-benar dipercaya. Pengajian kecil yang dahulu dimulai di sebuah rumah telah berubah menjadi ikatan batin. Ustadz Juweni bukan hanya diterima ceramahnya, tetapi juga dipercaya membimbing keluarga pada saat paling penting dalam kehidupan mereka.
Pak Saidi wafat pada 2012. Namun, persahabatan itu tidak ikut berakhir. Hubungan tersebut diteruskan oleh putra-putrinya, terutama Abah Sarjono. Sebagai seorang pengusaha, ia memiliki kemampuan untuk membantu berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan. Dukungan itu tidak hanya diberikan kepada Hidayatullah Ngawi. Sejumlah pesantren Hidayatullah di Jawa Timur juga pernah menerima bantuannya. Madiun, Surabaya, Sidoarjo, Bondowoso, dan Probolinggo termasuk di antaranya. Persahabatan pribadi akhirnya berkembang menjadi kepedulian terhadap gerakan dakwah yang lebih luas.
Di sela-sela membantu berbagai pesantren, muncul keinginan putra-putri Pak Saidi untuk mendirikan sebuah pondok. Bukan untuk kepentingan bisnis. Bukan pula sekadar untuk membesarkan nama keluarga. Pondok itu diniatkan sebagai amal jariah bagi kedua orang tua mereka: Bapak Saidi Moelyowijoyo bin Nithi Sumitho dan almarhumah Ibu Simpen binti Sumodjirjo. Abah Sarjono kemudian dipercaya menjadi koordinator untuk mewujudkan niat bersama tersebut.
Keinginan itu terus dipanjatkan dalam doa. Ustadz Juweni mengaminkan. Jamaah juga ikut mendoakan. Ketika itu, belum ada lokasi yang pasti. Belum ada gambar bangunan. Belum terbentuk kepanitiaan yang besar. Yang ada baru niat untuk menghadiahkan amal yang terus mengalir kepada kedua orang tua. Niat itu dijaga, dibicarakan, dan menunggu jalan yang Allah bukakan.
Jalan menuju berdirinya pondok datang dari arah yang tidak disangka. Ada seseorang di Ngawi yang memiliki tanggungan utang kepada Abah Sarjono dan belum mampu menyelesaikannya. Sebagai jalan keluar, orang tersebut menawarkan sebidang tanah sebagai alat pembayaran. Abah Sarjono menerima tawaran itu. Namun, tanah tersebut tidak ingin dijadikan sekadar aset pribadi. Ia teringat niat yang telah dibicarakan bersama keluarga. Tanah itu kemudian diarahkan untuk pembangunan pesantren sebagai amal jariah bagi ayah dan ibu mereka.
Abah Sarjono lalu menemui Ustadz Juweni. Ia menawarkan kerja sama. Putra-putri Pak Saidi akan membangun dan mendukung keberadaan pondok, sedangkan pengelolaan pendidikan serta pembinaan santrinya dipercayakan kepada Hidayatullah. Tawaran itu disambut baik. Dari situlah berdiri Pondok Tahfidzul Quran Saidi Moelyowijoyo. Nama sang ayah dipilih sebagai nama lembaga, sedangkan pahala amalnya diniatkan untuk kedua orang tua mereka.
Pondok itu dibangun oleh putra-putri Pak Saidi dengan Abah Sarjono sebagai koordinator. Masing-masing ikut mendukung sesuai kemampuan. Ada yang menyumbangkan pikiran, tenaga, pembiayaan, dan doa. Mereka ingin bakti kepada orang tua tidak berhenti setelah keduanya wafat. Bakti itu diteruskan melalui tempat pendidikan yang setiap hari dipenuhi bacaan Al-Qur’an, salat berjamaah, pengajaran ilmu, dan pembinaan generasi.
Kini pondok itu telah menampung lebih dari 50 santri. Usianya baru sekitar dua tahun, tetapi kapasitasnya sudah hampir penuh. Masyarakat terus menunjukkan minat. Mereka datang membawa anak-anaknya untuk belajar Al-Qur’an. Pak Saidi dan Ibu Simpen mungkin tidak pernah membayangkan bahwa putra-putri mereka kelak membangun sebuah pondok sebagai hadiah amal jariah. Namun, di tempat itulah kini ayat-ayat Al-Qur’an dibaca setiap hari. Ada salat yang ditegakkan. Ada ilmu yang diajarkan. Ada doa yang terus mengalir.
Bang Awi datang ketika pondok itu telah berdiri. Santri telah ada. Jadwal telah tersusun. Kegiatan telah berjalan. Namun, ia sesungguhnya tidak datang ke tempat yang lahir begitu saja. Di balik bangunan itu ada sejarah panjang. Ada seorang dai yang bersedia berpindah tugas. Ada rumah warga yang dibuka untuk pengajian. Ada keluarga yang mencari jalan terbaik bagi ayahnya. Ada dakwah yang dilakukan dengan lembut. Ada persahabatan yang tumbuh. Ada putra-putri yang ingin berbakti kepada kedua orang tuanya.
Kelak, Bang Awi mungkin hanya terlihat sedang menyimak hafalan. Membetulkan makhraj. Membangunkan santri untuk salat. Menemani anak yang sakit. Menghibur santri yang rindu kepada orang tua. Atau menunggu seorang anak menyelesaikan satu ayat yang belum lancar. Pekerjaan itu tampak kecil. Bahkan mungkin dianggap biasa. Tetapi Ustadz Juweni dahulu juga memulai dari sesuatu yang terlihat biasa: satu pengajian di rumah seorang warga.
Tidak ada yang menyangka satu pengajian itu akan melahirkan satu persahabatan. Tidak ada yang menyangka satu persahabatan itu akan menggerakkan sebuah keluarga membangun satu pesantren. Tidak ada yang tahu pula berapa banyak penghafal Al-Qur’an yang kelak tumbuh dari pondok tersebut. Karena itu, jangan pernah meremehkan sekecil apa pun langkah dakwah. Satu kunjungan dapat menumbuhkan kepercayaan. Satu percakapan yang lembut dapat mengubah arah hidup seseorang. Satu majelis kecil dapat menjadi awal bagi lahirnya sebuah pusat pendidikan.
Kita memang tidak selalu diberi kesempatan melihat hasil akhir dari apa yang kita mulai. Tugas kita adalah melangkah, menanam, menjaga niat, lalu bersabar. Sebab, langkah dakwah yang hari ini terlihat kecil, suatu saat dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat besar. Bisa menjadi persahabatan. Bisa menjadi amal jariah satu keluarga. Bisa menjadi pesantren. Bisa pula menjadi jalan pulangnya seseorang kepada Allah.
