Menggugat Ekosistem “Pemuda Plongo”

Menggugat Ekosistem “Pemuda Plongo”

Oleh: Aep Saepudin (Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jawa Timur)

Dunia sebenarnya lagi menggelar karpet merah buat sebuah perubahan besar. Sejarah nggak pernah bohong: perubahan nggak lahir dari zona nyaman, tapi dari keresahan anak muda yang ogah didikte sistem yang rusak. Tapi di Indonesia, kita justru dihadapkan pada fenomena yang miris: lahirnya “Pemuda Plongo”. Sebuah generasi yang fisiknya nongkrong di kafe-kafe lokal, tapi nalar dan empati sosialnya absen dari realitas pahit yang menimpa bangsanya sendiri.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil setting-an sistem yang rapi: pendidikan yang dibikin “jinak” biar nggak kritis, media yang cuma jago rebranding citra, sampai politik transaksional yang cuma butuh suara kalian, bukan otak kalian. Kalau ini dibiarin, jargon “Indonesia Emas 2045” cuma bakal jadi scam kolosal buat nutupin kenyataan kalau negara ini lagi “dikerjain” habis-habisan oleh kepentingan oligarki.

Konstitusi yang “Di-hack” dan Keadilan yang Ghosting

Kita lagi nonton paradoks yang nggak lucu. UUD 1945 cuma dijadikan pajangan seremonial, sementara pasal-pasalnya perlahan “di-hack” lewat penafsiran yang cuma menguntungkan ekspansi bisnis dan politik elit. Konstitusi yang harusnya jadi security system buat rakyat kecil, sekarang malah jadi karpet merah buat industri ekstraktif yang nggak punya hati.

Lihat aja puzzle kekacauan yang terserak: konflik tanah di Rempang yang bikin rakyat terusir, eksploitasi di Morowali yang ngerusak lingkungan, sampai kasus kekerasan aparat yang bikin kita bertanya, “Negara ini sebenarnya lindungi siapa?” Belum lagi soal pajak dan bea cukai yang seringkali terasa tajam ke bawah tapi tumpul ke kawan sendiri. Semua ini adalah bukti kalau negara lagi di-setir oleh segelintir orang. Di saat yang sama, para pejabat—dari parlemen sampai aparat—sibuk bikin narasi kalau “semuanya baik-baik saja” lewat konten-konten yang dipoles. Spoiler alert: faktanya nggak seindah itu.

Jargon “Indonesia Emas” dan Jebakan Nalar Kosong

Di tengah carut-marut kekuasaan yang penuh “calo”, pemerintah nyodorin jualan bernama “Indonesia Emas”. Masalahnya, jargon ini dijual tanpa upaya ngebangun kesadaran kritis. Pemuda cuma dijadikan simbol di baliho atau konten media sosial, tapi nalar mereka dikosongkan. Kita dipaksa jadi cheerleader buat agenda politik yang sebenarnya bikin masa depan kita makin suram.

Keadaan makin parah karena suara kritis kita ditenggelamkan oleh suara amplifier dari para buzzer. Mereka kerja keras buat memoles sosok-sosok yang secara kapasitas intelektual mungkin masih “lulusan SMP”, tapi dipaksa tampil layak memimpin di 2029. Ini adalah penghinaan buat nalar publik.

Lebih sedih lagi, tokoh-tokoh yang harusnya jadi kompas moral malah banyak yang kena “jebakan immoral”. Entah itu lewat jatah konsesi atau jabatan, suara mereka yang harusnya lantang mengkritik malah jadi sayup-sayup karena sudah masuk dalam lingkaran kepentingan. Efeknya, anak muda kehilangan role model yang beneran punya integritas.

Stop Jadi Penonton: Saatnya Upgrade Nalar

Dunia internasional lagi panas. Indonesia, dengan segala potensinya, malah sering kelihatan kayak orang bingung yang penuh ketakutan. Kita kelimpungan mau ikut siapa di tengah persaingan kekuatan global (Balance of Power). Kita cuma jadi penonton, bukan pemain yang punya harga diri.

Tantangan buat kalian, anak muda, emang tinggi banget. Jadi kritis di tengah ekosistem yang minta kalian buat “nurut aja” itu mahal harganya. Tapi itulah satu-satunya jalan kalau nggak mau masa depan kalian makin burik. Jangan mau jadi pemuda yang cuma jago scrolling tapi plongo soal kebijakan publik. Pendidikan jangan cuma dipandang sebagai jalur cari kerja, tapi sebagai senjata buat ngebongkar kebohongan sistem.

Sudah saatnya berhenti jadi asing di tanah air sendiri. Bangun dari tidur panjang kalian. Jangan biarin masa depan kalian digadaikan sama orang-orang yang cuma peduli untung rugi. Kalau dunia lagi butuh pembaruan, kalianlah yang harus maju paling depan dengan nalar yang tajam dan keberanian buat bilang “nggak” pada ketidakadilan. Indonesia nggak butuh generasi yang cuma jago flexing, kita butuh pemuda yang punya nyali buat melawan arus dan mengembalikan mandat keadilan buat semua.

Reporter: Aep Saepudin
Editor: Aminudin

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *