hidayatullahjatim.com – Dalam pendidikan, kita sering merasa lebih tenang ketika kurikulum sudah tersedia, buku sudah dibagikan, target pembelajaran sudah ditetapkan, dan jadwal sudah tersusun rapi. Semua itu memang penting. Namun pengalaman di lapangan mengajarkan satu hal yang sangat mendasar: kurikulum yang baik belum tentu menghasilkan pendidikan yang baik jika guru yang menjalankannya belum siap. Dokumen bisa lengkap, tetapi anak berhadapan langsung dengan guru. Karena itu, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas orang yang menghidupkan kurikulum tersebut.
Kurikulum diniyah, Al-Qur’an, sains, matematika, bahasa, maupun bidang lain pada dasarnya hanyalah peta. Peta menunjukkan arah, tetapi yang membawa anak sampai ke tujuan adalah guru. Seorang guru harus memahami apa yang diajarkan, mengapa materi itu penting, bagaimana menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami, dan bagaimana menghubungkannya dengan kehidupan anak. Guru yang kuat tidak hanya menguasai isi pelajaran, tetapi mampu membuat pelajaran itu hidup, sehingga anak tidak sekadar tahu atau menghafal, tetapi benar-benar memahami dan tumbuh melalui proses belajar.
Di sinilah kita perlu jujur melihat keadaan sekolah-sekolah kita. Tidak sedikit lembaga yang sebenarnya sudah memiliki kurikulum, buku, target, bahkan program yang cukup baik, tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Kadang kita terburu-buru menyimpulkan bahwa kurikulumnya kurang tepat. Padahal persoalannya bisa jadi terletak pada kesiapan guru. Ada guru yang menguasai materi tetapi belum kuat dalam cara mengajar, ada yang mampu mengelola kelas tetapi belum memahami arah besar pendidikan Hidayatullah, dan ada yang memiliki semangat tinggi tetapi belum mendapat pendampingan yang cukup. Ini bukan alasan untuk menyalahkan guru, melainkan tanda bahwa pembinaan guru harus diperkuat.
Pelatihan guru karena itu tidak boleh hanya hadir sesekali dalam bentuk seminar singkat. Guru membutuhkan proses belajar yang terus-menerus: membaca, berdiskusi, berlatih, mencoba, dievaluasi, lalu diperbaiki lagi. Guru diniyah perlu dikuatkan penguasaan materi dan cara menyampaikannya. Guru Al-Qur’an perlu memiliki standar bacaan dan metode yang jelas. Guru sains, matematika, bahasa, dan mata pelajaran umum juga harus terus meningkatkan kemampuan sekaligus memahami bahwa ilmu yang mereka ajarkan merupakan bagian dari pendidikan berbasis tauhid. Dengan begitu, semua guru membawa misi yang sama.
Kepala sekolah mempunyai peran penting dalam proses ini. Tugasnya bukan hanya memastikan jadwal berjalan, administrasi selesai, dan kegiatan terlaksana. Kepala sekolah harus mengenal kekuatan dan kelemahan setiap guru: siapa yang perlu pendampingan dalam penguasaan materi, siapa yang perlu diperkuat metode mengajarnya, siapa yang perlu dibantu mengelola kelas, dan siapa yang sudah siap menjadi penggerak bagi guru lain. Sekolah yang tumbuh adalah sekolah yang memiliki budaya belajar, bukan hanya untuk siswa, tetapi juga untuk para gurunya. Jika guru berhenti belajar, sekolah perlahan akan ikut berhenti berkembang.
Kita juga perlu berani mengevaluasi hasil pendidikan dengan jernih. Jika anak belum mencapai kemampuan yang diharapkan, jangan selalu buru-buru menambah program atau mengganti buku. Lihat kembali proses yang terjadi di kelas. Apakah guru memahami targetnya? Apakah metode yang digunakan sesuai dengan usia dan kemampuan anak? Apakah ada pendampingan dan tindak lanjut? Pertanyaan sederhana seperti ini sering kali lebih membantu daripada terus menambah program baru. Perbaikan pendidikan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar; sering kali yang dibutuhkan adalah kesungguhan memperbaiki hal-hal dasar secara terus-menerus.
Bagi Hidayatullah, guru yang kuat juga berarti guru yang memahami misi. Kita tidak cukup memiliki guru yang pintar mengajar tetapi tidak memahami arah pendidikan. Sebaliknya, kita juga tidak boleh puas dengan guru yang memiliki semangat perjuangan tetapi lemah dalam kemampuan profesional. Keduanya harus bertemu. Guru harus kompeten sekaligus sadar bahwa pekerjaan di ruang kelas adalah bagian dari menyiapkan generasi. Ketika dua hal ini menyatu, pelajaran tidak lagi sekadar mengejar nilai, tetapi ikut membentuk ketelitian, tanggung jawab, iman, adab, keluasan berpikir, dan keberanian anak.
Karena itu, investasi terbesar sekolah bukan hanya pada gedung dan fasilitas, tetapi juga pada guru. Fasilitas penting, tetapi guru yang baik jauh lebih menentukan. Guru perlu diberi kesempatan berkembang, dihargai usahanya, diperbaiki kekurangannya, dan dipersiapkan menjadi pendidik yang semakin kuat dari tahun ke tahun. Kita ingin sekolah-sekolah Hidayatullah memiliki kurikulum yang baik, tetapi lebih dari itu, kita ingin kurikulum tersebut benar-benar hidup dalam diri guru dan terasa dalam pengalaman belajar anak. Kurikulum memberi arah, tetapi gurulah yang membawa generasi berjalan menuju arah itu.
Oleh: Amun Rowi
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur | Jumat, 6 November 2026
