SURABAYA (hidayatullahjatim.com)– Ketua Umum DPP Hidayatullah, Naspi Arsyad, menegaskan bahwa jati diri kader harus dijaga melalui ketakwaan dan diperkuat dengan sinergi lintas generasi. Hal itu disampaikannya dalam Silaturrahmi Syawwal 1447 H yang diikuti sekitar 2.000 jamaah dan kader di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Sabtu (28/3/2026).
Dalam arahannya, Naspi menekankan bahwa tantangan terbesar organisasi bukan sekadar ekspansi, tetapi menjaga nilai dasar agar tetap hidup dan tidak terputus.
“Taqwa adalah jati diri seorang kader. Ini bukan sekadar konsep spiritual pribadi, tetapi fondasi utama yang menentukan arah gerak organisasi. Kalau taqwa itu kuat, maka kader akan kokoh, tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, dan tetap berada dalam garis perjuangan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa jati diri tidak otomatis bertahan tanpa upaya sadar dari seluruh elemen organisasi. Menurutnya, banyak organisasi yang berkembang secara struktural, tetapi kehilangan ruh perjuangannya.
“Yang sering terjadi, organisasi tumbuh besar, program semakin banyak, struktur semakin kuat, tetapi jati diri justru melemah. Karena itu, merawat jati diri harus menjadi kesadaran bersama. Ini bukan tugas individu, tetapi tugas jamaah,” tegasnya.
Naspi menambahkan, proses pewarisan nilai hanya bisa berjalan jika ada sinergi dan kolaborasi yang kuat antara generasi senior dan generasi muda.
“Sinergi dan kolaborasi adalah cara kita merawat jati diri agar bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Yang senior tidak boleh berjalan sendiri, yang muda juga tidak boleh dilepas tanpa bimbingan. Harus ada pertemuan nilai, pertemuan pengalaman, dan pertemuan semangat,” katanya.
Menurutnya, sinergi bukan sekadar kerja bersama dalam program, tetapi proses pembinaan yang berkelanjutan. “Di situlah jati diri itu ditransmisikan, dari keteladanan, dari interaksi, dan dari kebersamaan dalam perjuangan,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa jati diri kader harus tercermin dalam sikap hidup sehari-hari, bukan hanya dalam forum atau simbol organisasi.
“Kita tidak ingin jati diri ini hanya hidup dalam slogan atau acara seremonial. Jati diri itu harus tampak dalam cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalankan amanah. Kalau ini terjaga, maka insyaallah generasi berikutnya akan menerima nilai yang sama, bahkan bisa mengembangkannya lebih baik,” ujarnya.
Naspi menutup arahannya dengan mengingatkan bahwa kesinambungan perjuangan sangat ditentukan oleh keberhasilan menjaga nilai, bukan sekadar mempertahankan struktur.
“Yang kita wariskan bukan hanya organisasi, tetapi nilai. Kalau nilai ini terjaga, maka organisasi akan tetap hidup meskipun zaman berubah. Tetapi kalau nilai ini hilang, maka yang tersisa hanya nama,” tandasnya.
Silaturrahmi Syawwal 1447 H mengangkat tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”. Kegiatan ini digelar oleh DPW Hidayatullah Jawa Timur dengan kepanitiaan kolaboratif antara DPW, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, DPD, Mushida, dan Pemuda. Acara berlangsung di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Sabtu (28/3/2026), dan dihadiri sekitar 2.000 jamaah serta kader Hidayatullah.

