MALANG (hidayatullahjatim.com) — Menegaskan komitmennya sebagai lembaga perjuangan penegak nilai-nilai Islam, Hidayatullah Jawa Timur menggelar sesi pembukaan Monitoring dan Evaluasi Organisasi 2026. Momentum strategis ini menjadi sarana konsolidasi untuk memperkuat spiritualitas (ruhiyah) serta memperjelas peran kader dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam di seluruh lini kehidupan.
dalam pengarahannya, Ketua Dewan Murobbi Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz M. Juweni, menegaskan bahwa Hidayatullah bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa, melainkan wadah perjuangan untuk membumikan Islam. Misi utama lembaga ini adalah mewujudkan cita-cita luhur “Membangun Peradaban Islam” yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Inspirasi dasar perjuangan ini bersumber dari landasan spiritual Surah As-Saff ayat 9:
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”
Menyerap spirit ayat tersebut, Ust. Juweni mengingatkan seluruh jamaah dan kader akan amanah mulia yang diemban. “Berada dalam barisan jamaah Hidayatullah berarti menyadari peran kita untuk meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW. Kita dipanggil untuk menyebarkan kebenaran dan keindahan Islam agar dapat merasuk ke dalam setiap dimensi kehidupan,” tutur beliau.
Halaqoh dan Amal Usaha: Pilar Membumikan Risalah
Penyebaran risalah tersebut telah diwujudkan secara konkret melalui pembangunan kampus-kampus pesantren oleh para kader perintis di berbagai daerah. Melalui pilar utama—Pendidikan, Dakwah, Ekonomi, dan Sosial—pesantren Hidayatullah hadir sebagai pusat peradaban dan pelayanan masyarakat.
“Maka kita sebagai kader, jamaah, dan terlebih pengurus serta penerus di masing-masing daerah punya kewajiban bagaimana Islam bisa terasa di dalam kegiatan kampus-kampus pesantren kita. Salah satunya dengan cara berhalaqoh,” pesan Ust. Juweni.
Beliau menekankan pentingnya halaqoh (mengkaji Islam secara rutin) sebagai penguat pondasi keimanan. Bahkan dalam kondisi yang paling menyulitkan sekalipun, pembinaan keislaman harus tetap berjalan. “Bahkan jika kita berada dalam lingkungan yang tidak aman, lingkungan yang mengancam aqidah dan kesempurnaan Islam kita, maka tetap kita ‘wajib’ berhalaqoh meskipun harus sembunyi-sembunyi,” tegasnya.
Penajaman Ruhiyah Berdasarkan Piagam Gunung Tembak
Menutup arahannya, Ust. Juweni mengimbau seluruh kader untuk kembali merefleksikan dan mengamalkan poin-poin penting dalam Piagam Gunung Tembak. Penguatan kapasitas spiritual merupakan bekal mutlak bagi para pejuang peradaban.
Beberapa amalan utama yang wajib dirutinkan oleh kader Hidayatullah meliputi:
-
Sholat Fardhu Berjamaah: Menjaga kedisiplinan dan kebersamaan dalam ibadah utama.
-
Sholat Malam (Qiyamullail): Mengasah kepekaan batin dan memohon kekuatan ilahi.
-
Interaksi dengan Al-Qur’an: Merutinkan tilawah, tadabbur, dan pengamalan ayat-ayat suci.
-
Amalan Nawafil: Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sebagai pertajam spiritualitas.
DPW Hidayatullah Jawa Timur mengajak seluruh elemen kader, simpatisan, dan masyarakat luas untuk bersama-sama mengokohkan barisan, memperkuat kualitas ibadah, mengistiqomahkan halaqoh serta berkontribusi aktif dalam membumikan Islam untuk terwujudnya peradaban yang berkeadaban. Wallahu a’lam.
Reporter: Mas Galih
Editor: Aminudin
