MALANG (hidayatullahjatim.com) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur mendorong perubahan orientasi organisasi dari sekadar menjalankan aktivitas kelembagaan menuju kontribusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Arah tersebut dirumuskan melalui lima tahapan, yakni hadir, berfungsi, bermanfaat, dipercaya, dan berpengaruh.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Drs. Amun Rowie, M.Pd., dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Organisasi 2026 yang diikuti jajaran DPD Hidayatullah se-Jawa Timur pada 22–23 Agustus 2026.
Menurut Amun, Monev bukan sekadar agenda rutin untuk memeriksa pelaksanaan program dan administrasi organisasi. Kegiatan tersebut harus menjadi momentum untuk melihat kembali kualitas kehadiran Hidayatullah di tengah masyarakat serta menentukan arah pengembangan organisasi ke depan.
“Kita tidak sekadar mengevaluasi pekerjaan harian. Kita sedang menentukan arah perjalanan. Berpengaruh itu bukan tentang seberapa populer kita dikenal, tetapi seberapa besar kehadiran kita mampu membawa perubahan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” kata Amun.
Lima Tahap Penguatan Organisasi
Amun menjelaskan, setiap struktur organisasi perlu mengetahui posisi dan kualitas kontribusinya melalui lima tahapan.
Pertama, hadir, yakni ketika struktur organisasi terbentuk, kader tersedia, dan aktivitas kelembagaan berjalan. Kedua, berfungsi, ketika pengurus mampu menjalankan tugas, koordinasi, dan tata kelola organisasi secara efektif.
Ketiga, bermanfaat, ketika program dakwah, pendidikan, sosial, dan pelayanan lainnya mampu memberikan solusi bagi masyarakat. Keempat, dipercaya, ketika masyarakat dan berbagai mitra menaruh kepercayaan terhadap keberadaan dan kontribusi organisasi.
Tahap kelima adalah berpengaruh, ketika gagasan, kader, dan layanan organisasi mampu menjadi salah satu rujukan dalam kehidupan masyarakat.
“Jangan berhenti pada sekadar hadir. Kita harus terus bergerak dari hadir menjadi berfungsi, dari berfungsi menjadi bermanfaat, kemudian dipercaya, dan akhirnya mampu memberikan pengaruh,” ujar Amun.
Kerangka tersebut sekaligus mendorong perubahan ukuran keberhasilan organisasi. Menurut Amun, kinerja tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari hasil dan dampak yang dihasilkan.
“Jangan sampai kita merasa berhasil hanya karena banyak rapat, banyak acara, dan banyak laporan. Yang harus kita lihat adalah apa hasilnya dan apa dampaknya bagi kader serta masyarakat yang kita layani,” katanya.
Penguatan Organisasi Berbasis Data
Untuk mendukung perubahan tersebut, DPW Hidayatullah Jawa Timur juga mendorong penguatan tata kelola organisasi berbasis data.
Pemanfaatan teknologi digital, termasuk pengelolaan data dan dashboard organisasi, dipandang penting untuk membantu pimpinan memperoleh informasi yang cepat dan akurat sebagai dasar pengambilan keputusan.
Amun menegaskan, digitalisasi bukan dimaksudkan untuk menambah beban administratif pengurus. Teknologi harus menjadi instrumen yang memudahkan organisasi membaca kondisi, menetapkan prioritas, dan mengambil tindakan.
“Sistem digital bukan untuk menambah beban administrasi kader, melainkan mempercepat keputusan. Dashboard data adalah instrumen kepemimpinan. Dari data, lahir keputusan, penugasan, dan tindakan nyata,” katanya.
Dengan pengelolaan berbasis data, organisasi diharapkan mampu mengurangi pengambilan keputusan yang hanya bertumpu pada asumsi dan memperkuat perencanaan berdasarkan kondisi faktual di lapangan.
Manhaj Tetap, Pendekatan Berkembang
Transformasi organisasi juga diarahkan pada kemampuan mengaktualisasikan manhaj Hidayatullah dalam konteks perubahan zaman.
Perkembangan teknologi, perubahan karakter generasi muda, serta dinamika sosial masyarakat menuntut pembaruan dalam pendekatan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial.
Namun, menurut Amun, adaptasi tersebut tidak berarti mengubah prinsip dasar dan manhaj organisasi. “Yang kita ubah bukan manhajnya. Yang terus kita perbarui adalah cara menghadirkan manhaj dalam realitas zaman,” kata Amun.
Ia menekankan bahwa manhaj harus diterjemahkan menjadi gerakan yang menghasilkan manfaat dan membangun kepercayaan masyarakat.
“Kita ubah manhaj menjadi gerakan, gerakan menjadi manfaat, manfaat menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi pengaruh,” ujarnya.
DPD Didorong Menentukan Posisi
Melalui Monev Organisasi 2026, DPW Hidayatullah Jawa Timur mendorong seluruh DPD melakukan evaluasi secara objektif terhadap posisi masing-masing dalam lima tahapan tersebut.
Setiap DPD perlu mengetahui apakah organisasinya masih berada pada tahap membangun kehadiran, memperkuat fungsi, menghasilkan manfaat, membangun kepercayaan, atau sudah mulai memberikan pengaruh di tengah masyarakat.
Evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar untuk menentukan prioritas kerja dan perbaikan organisasi pada periode berikutnya.
Bagi DPW Hidayatullah Jawa Timur, transformasi bukan sekadar perubahan dalam sistem administrasi atau penambahan program. Transformasi diarahkan untuk memastikan seluruh aktivitas organisasi bermuara pada meningkatnya manfaat dan kontribusi Hidayatullah bagi umat dan masyarakat Jawa Timur.
Dengan demikian, perjalanan organisasi tidak berhenti pada hadir, tetapi terus bergerak menuju berfungsi, bermanfaat, dipercaya, dan berpengaruh.
Editor: Aminudin
