DPW Hidayatullah Jatim Gulirkan Monev Strategis 2026, Pacu Seluruh Pengurus DPD Se-Jatim Bergeser dari Rutin Organisasi Menuju Rujukan Peradaban Umat
MALANG (hidayatullahjatim.com) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk melakukan lompatan peran dalam peta dakwah dan pelayanan masyarakat di Jawa Timur[cite: 1]. Melalui panggung Monitoring dan Evaluasi (Monev) Organisasi 2026, Hidayatullah Jatim resmi meluncurkan arah baru bertajuk “Transformasi Organisasi Menuju Jawa Timur Berpengaruh”.
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz Drs. Amun Rowie, M.Pd., menyampaikan bahwa Monev tidak boleh lagi dipandang sekadar ritual administrasi atau ajang mencoret daftar kegiatan. Monev 2026 harus menjadi momentum konsolidasi tingkat tinggi untuk mengukur seberapa jauh kontribusi nyata organisasi terhadap problem masyarakat[cite: 1].
“Kita tidak sekadar mengevaluasi pekerjaan harian. Kita sedang menentukan arah perjalanan. Berpengaruh itu bukan tentang seberapa populer kita dikenal, tetapi seberapa besar kehadiran kita mampu membawa perubahan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” tegas Ustadz Amun Rowie, M.Pd., Ketua DPW Hidayatullah Jatim.
Lima Tangga Evolusi Organisasi
Ustadz Amun Rowie memaparkan, untuk mencapai kualifikasi “Jawa Timur Berpengaruh”, seluruh Dewan Pengurus Daerah (DPD) di kabupaten/kota se-Jatim harus berani menguji keberadaannya melalui lima tingkatan evolusi kelembagaan:
-
Hadir: Struktur formal terbentuk, kader tersedia, dan aktivitas mulai berjalan.
-
Berfungsi: Pengurus aktif berkoordinasi, menjalankan tugas, dan mengelola data.
-
Bermanfaat: Program dakwah, pendidikan, dan sosial memberi solusi nyata bagi warga.
-
Dipercaya: Masyarakat dan mitra menaruh kepercayaan serta dukungan tinggi.
-
Berpengaruh: Gagasan dan layanan organisasi jadi rujukan kehidupan publik.
Menurutnya, indikator kinerja organisasi harus bergeser radikal dari activity oriented (menghitung banyaknya rapat dan acara) menjadi result and impact oriented (mengukur dampak perubahan kader dan penerima manfaat).
Digitalisasi Berbasis Data & Aktualisasi Manhaj
Dalam pemaparannya, Ustadz Amun Rowie juga menyoroti pentingnya penguasaan manajemen modern berbasis data. Digitalisasi sistem, seperti penggunaan instrumen spreadsheet hingga dashboard pimpinan, merupakan sarana mutlak agar pengambilan keputusan di tingkat DPW maupun DPD berlangsung cepat, presisi, dan objektif.
“Sistem digital bukan untuk menambah beban administrasi kader, melainkan mempercepat keputusan. Dashboard data adalah instrumen kepemimpinan. Dari data, lahir keputusan, penugasan, dan tindakan nyata,” tegas pimpinan Hidayatullah Jatim tersebut
Selain digitalisasi, tantangan utama lainnya adalah aktualisasi manhaj di era modern. Tanpa mengubah prinsip dasar gerakan, cara penyampaian dakwah, layanan pendidikan, dan aksi sosial harus disesuaikan dengan kebutuhan generasi muda, kelompok profesional, serta dinamika ruang digital saat ini.
“Yang kita ubah bukan manhajnya. Yang terus kita perbarui adalah cara menghadirkan manhaj dalam realitas zaman. Kita ubah manhaj menjadi gerakan, gerakan menjadi manfaat, manfaat menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi pengaruh,” pungkas Ustadz Amun Rowie.
Editor: Aminudin
