TUBAN (hidayatullah.com) – Senin pagi (16/2) itu, suasana di Darul Hijrah V Tuban terasa berbeda. Biasanya, jam tujuh pagi adalah waktu bagi kami untuk bergelut dengan kitab dan hafalan bait-bait nazam. Namun hari itu, meja dan kursi kelas kami tinggalkan. Sebagai gantinya, sekop, ember, dan gunungan pasir telah menanti di halaman.

Kami tidak sedang dihukum. Kami sedang menempuh “mata pelajaran” kehidupan: Ngecor Massal Masjid Syafa’atul Qur’an.
Bukan Sekadar Kerja Kasar
Awalnya, mungkin ada bisikan dalam hati, “Untuk apa kami yang susah payah mengangkat beban ini?” Namun, nasehat dari Ustaz Lajianto, pengurus DPD Hidayatullah Tuban, seketika menampar kesadaran kami. Beliau mengingatkan bahwa kegiatan ini bukan karena pondok kekurangan biaya untuk membayar tukang, melainkan untuk membina jiwa kami sendiri.
Di sini, identitas kami melebur. Teman saya yang dikenal punya hafalan paling lancar, kini berlumuran semen. Saya sendiri, yang biasanya memimpin halaqah, harus rela bahu-membahu mengoper ember estafet.
“Yang sedang dicor hari ini bukan hanya lantai masjid, tapi juga ego dalam diri kalian,” kata Ustaz Lajianto kepada kami.
Kami belajar bahwa tubuh yang berkeringat ternyata lebih mudah menyerap hidayah daripada kepala yang penuh dengan teori namun merasa paling tinggi.
Merobohkan Tembok Kesombongan
Melalui kerja fisik ini, kami diajarkan untuk menghargai setiap tetes keringat orang lain. Tidak ada senioritas, tidak ada yang merasa lebih berjasa. Kami semua sama: hamba Allah yang sedang berupaya membangun rumah-Nya sekaligus merobohkan tembok kesombongan (thogo’) dalam diri.
Pujian juga datang dari Ustaz Lajianto yang memantau kegiatan kami. Beliau berpesan bahwa ilmu tanpa khidmah (pengabdian) hanya akan melahirkan keangkuhan. Dakwah bukan sekadar tentang lisan yang fasih, tapi juga tentang tangan yang siap bekerja keras dan hati yang rendah hati.
Sebuah Pelajaran Keikhlasan
Bagi kami para santri Darul Hijrah Tuban, hari itu adalah madrasah yang nyata. Kami belajar bahwa:
-
Identitas Sosial itu Semu: Di hadapan tugas dan pengabdian, semua jabatan gugur.
-
Kepekaan Sosial: Kami merasakan langsung beratnya pekerjaan fisik yang selama ini mungkin kami pandang sebelah mata.
-
Ikhlas Tanpa Panggung: Membangun masjid adalah tentang menanam amal, bukan mencari tepuk tangan.
Masjid Syafa’atul Qur’an mungkin akan berdiri megah dalam hitungan bulan, namun pelajaran tentang tawadhu (rendah hati) yang kami dapatkan hari ini akan kami bawa seumur hidup. Kami ingin menjadi kader yang tidak hanya cerdas di otak, tapi juga membumi di hati.
Reporter: Santri Darul Hijrah V Tuban
Editor: Aminudin

