SIDOARJO (hidayatullahjatim.com) – Selama dua hari berturut-turut, pada 5 dan 6 September 2026, sebuah sudut ruangan riuh oleh detak mesin jahit dan gunting yang memotong kain. Sebanyak sembilan perempuan berkumpul, mengikat fokus dan kesabaran dalam Workshop Menjahit Sarung Bantal Estetik dari Kain Perca. Di bawah bimbingan Ibu Zumaroh, potongan-potongan kain sisa yang semula tak terpakai perlahan disusun, dijahit, dan dirangkai kembali menjadi sebuah karya yang bernilai dan indah dipandang.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan teknis, melainkan sebuah ruang kontemplasi kecil tentang proses, ketelitian, dan cara kita memandang potensi yang kerap terabaikan.
Menyambung Potongan, Merawat Kesabaran
Dalam sesi pembuka, Bu Zumaroh tidak hanya mengajarkan teknik memotong atau mengoperasikan mesin jahit. Beliau membagikan hakikat mendalam dari keterampilan menjahit: sebuah seni menyatukan hal-hal yang terpisah. Kain perca yang kerap dianggap limbah atau tak berharga, di tangan yang sabar dan kreatif, justru mampu melahirkan estetika baru yang unik dan penuh karakter.
Proses melipat, mengukur, dan mengarahkan jarum di atas kain menghadirkan perenungan tersendiri bagi para peserta:
-
Seni Menghargai Proses: Menjahit mengajarkan bahwa keindahan tidak lahir secara instan. Ada ketelitian dalam setiap garis jahitan dan keberanian untuk membongkar kembali saat benang tersimpul keliru.
-
Melihat Potensi dalam Keterbatasan: Kain perca hadir dengan warna dan bentuk yang tidak seragam. Mengolahnya menuntut kita untuk menerima ketidaksempurnaan dan merangkainya menjadi keharmonisan baru.
-
Penghargaan terhadap Karya: Ketika selembar sarung bantal selesai dijahit, tumbuh rasa hormat yang lebih dalam terhadap setiap helai pakaian atau karya tangan orang lain, karena kini kita memahami jejak kesabaran di baliknya.
Kepuasan di Balik Helai Jahitan
Ungkapan para peserta menjadi cermin jernih dari pengalaman dua hari tersebut. Bagi sebagian orang, menjahit mungkin terlihat sederhana dari luar. Namun saat jemari sendiri yang memegang kain dan mengendalikan pedal, muncul kesadaran bahwa kegiatan ini membutuhkan ketenangan emosi dan fokus yang utuh. Ada kepuasan batin yang tak ternilai ketika potongan kain yang semula berantakan akhirnya menjelma menjadi sarung bantal cantik yang siap menghiasi sudut rumah.
Workshop ini meninggalkan pesan yang hangat: bahwa keterampilan tangan bukan hanya tentang menghasilkan barang berguna, melainkan tentang melatih jiwa untuk lebih tenang, lebih sabar, dan pandai menemukan keindahan dari hal-hal yang tersisa.
Reporter: Sauma
Editor: Aminudin
