Oleh: Muhammad Nur Hadi
Allahummaghfir lahum, warhamhum, wa ‘afihim, wa‘fu ‘anhum.
Ada kabar yang seketika membawa kita kembali pada masa lalu. Wajah-wajah lama muncul dalam ingatan, bersama cerita perjuangan yang pernah dijalani dalam kesederhanaan. Kabar berpulangnya Ustadz Ali Mustajab, atau yang biasa saya sapa Mas Ali, Mas Tajab, membawa saya kembali mengenang perjalanan awal Hidayatullah Ngawi dan orang-orang yang pernah tumbuh bersama di dalamnya.
Saat pertama kali nyantri di Hidayatullah Ngawi, Mas Ali masih sangat muda. Ia ketika itu menempuh pendidikan di MAN Paron. Ingatan saya agak samar, apakah ia mulai bergabung pada masa kepemimpinan Ustadz Ahmad Sularjo atau ketika saya mendapat amanah memimpin. Namun yang saya ingat dengan baik, Mas Ali tekun mengikuti proses pembinaan hingga akhirnya benar-benar melebur dalam perjuangan.
Dari seorang santri muda, Mas Ali perlahan tumbuh menjadi bagian dari orang-orang yang memikul amanah. Ia pernah terlibat dalam bidang keuangan dan pengelolaan lembaga. Dalam tugas itu, salah satu hal yang paling saya ingat adalah kesungguhannya memperjuangkan kesejahteraan para ustadz dan pengabdi, terutama agar hak dan gaji personalia dapat dibayarkan tepat waktu.
Pada masa itu, persoalan kesejahteraan bukan hal sederhana. Lembaga masih terus bertumbuh, sementara kebutuhan dakwah, pendidikan, dan kehidupan para pengabdi terus berjalan. Karena itu, perhatian kepada kesejahteraan personalia sebenarnya merupakan bagian penting dari menjaga keberlangsungan perjuangan. Mas Ali termasuk orang yang mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut.
Saya juga masih mengenang salah satu kebijakan yang cukup berani saat itu, yaitu menaikkan gaji personalia hingga dua kali lipat, dari tingkat bawah hingga atas. Pada masa tersebut, kepengurusan diisi antara lain oleh Ustadz Juweni, Ustadz Muhammad Nur Hadi, Ustadz Nashrullah Suhali, Ustadz Rahmat, Ustadz Ali Mustajab, dan Ustadz Bashori. Mereka menjalankan perannya masing-masing dalam membangun dan menjaga roda organisasi.
Kini, ketika masa itu dikenang kembali, terasa betapa cepat waktu berjalan. Ustadz Bashori telah lebih dahulu berpulang. Ustadz Nashrullah Suhali juga telah menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kini Mas Ali menyusul sahabat-sahabat seperjuangannya, meninggalkan kita yang masih melanjutkan perjalanan.
Kepergian mereka mengingatkan bahwa sejarah sebuah perjuangan tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang berdiri di depan. Ia juga dibangun oleh mereka yang bekerja dalam diam, mengurus administrasi, menjaga keuangan, membantu para pengabdi, dan memastikan roda lembaga tetap berjalan. Mungkin nama mereka tidak selalu banyak disebut, tetapi jejak kerja mereka tetap menjadi bagian dari sejarah.
Pada akhirnya, jabatan akan selesai dan amanah akan berpindah. Generasi baru akan datang, struktur organisasi akan berubah, dan program akan terus berkembang. Namun ada sesuatu yang tetap tinggal, yaitu jejak kebaikan yang pernah ditanam dalam kehidupan orang lain, dalam lembaga, dalam jamaah, dan dalam perjalanan dakwah.
Karena itu, kepergian Mas Ali bukan hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita yang masih hidup. Generasi terdahulu telah mengerjakan bagian mereka. Kini giliran kita melanjutkan estafet perjuangan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan tanggung jawab yang sama.
Selamat jalan, Mas Ali. Selamat jalan, Ustadz Bashori. Selamat jalan, Ustadz Nashrullah Suhali. Terima kasih atas pengabdian, persahabatan, dan jejak kebaikan yang pernah ditorehkan. Semoga setiap keringat, langkah, dan pengorbanan dalam jalan dakwah menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, lapangkanlah kubur mereka, dan tempatkanlah mereka bersama hamba-hamba-Mu yang saleh. Jika dahulu Engkau mempertemukan kami dalam barisan perjuangan di dunia, maka pertemukanlah kami kembali kelak di jannah-Mu, dalam keadaan saling mengenal dan berada dalam naungan ridha-Mu.
Allahummaghfir lahum, warhamhum, wa ‘afihim, wa‘fu ‘anhum.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Gondang, 17 Agustus 2026
Muhammad Nur Hadi
