Hidayatullahjatim.com – Organisasi Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk beradaptasi di tengah pesatnya gelombang transformasi teknologi global dengan mendorong penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta penyelarasan branding nasional. Komitmen tersebut disampaikan dalam agenda pembekalan bertajuk “Kelas HAL & Humas Batch 2: Dari Kegiatan Menjadi Publikasi” yang diselenggarakan secara daring pada Rabu (30/9/2026).
Wakil Sekretaris Jenderal III PP Hidayatullah, Ustadz Muhammad Isnaeni, S.E., menggarisbawahi pentingnya integrasi teknologi secara taktis guna mengakselerasi tata kelola organisasi dan dakwah. Ia menyebut penyeragaman branding secara menyeluruh di tingkat wilayah hingga daerah merupakan langkah mutlak yang harus direalisasikan.
“Kita harus memanfaatkan AI. Ke depan, penyamaan branding di seluruh wilayah Hidayatullah menjadi langkah mutlak agar narasi dan syiar yang disampaikan solid serta terintegrasi,” kata Ustadz Muhammad Isnaeni, S.E. melalui Zoom Meet, Rabu (30/9/2026).
Langkah penyeragaman tersebut mencakup pengelolaan portal website resmi hingga produksi konten kreatif digital seperti media visual dan meme. Kebijakan ini dirancang agar seluruh instrumen media organisasi dapat berjalan secara sinkron.
Baca Juga: Optimalisasi AI untuk Efisiensi Lembaga dan Penguatan Dakwah Digital
Praktisi komunikasi sekaligus Founder of Ruang edit, Bang Defri Muhammad Fahrul Habiebi, S.I.Kom., memaparkan bahwa fenomena AI telah mentransformasi lanskap kerja secara masif. Menurutnya, lembaga atau organisasi masa kini tidak lagi memiliki pilihan untuk bersikap acuh terhadap perkembangan teknologi.
“Pilihannya hanya dua: kita mengikuti tren AI atau tertinggal. Pilihan terbaik tentu memanfaatkannya secara optimal. AI memungkinkan kita belajar lebih cepat, serta bekerja lebih efisien dan singkat. Prinsip utamanya, kita yang memegang kendali; kita memanipulasi AI, jangan sampai kita yang dimanfaatkan AI,” ujar Defri saat mengisi materi dari kedudukannya via Zoom Meet, Rabu (30/9/2026).
Dalam pemaparannya, Bang Defri merinci tiga pilar utama pemanfaatan AI yang efektif bagi operasional organisasi, yakni penetapan peran (Role Setting), instruksi spesifik (Task Definition), dan kejelasan perintah (Prompt Precision). Ketiga prinsip ini menjadi pedoman penting agar output yang dihasilkan oleh sistem AI dapat presisi sesuai kebutuhan tata kelola lembaga.
Sesi diskusi berlangsung interaktif ketika para peserta bertanya teknik penyusunan prompt ideal pada platform AI seperti Gemini. Bang Defri menjelaskan bahwa komunikasi dengan AI kini dapat dilakukan secara fleksibel menggunakan bahasa sehari-hari, baik melalui pesan teks maupun perintah suara (voice note).
Kader Daerah Disiapkan Jadi Agen Perubahan
Menanggapi usulan dari Ustadz Ade Syariful Allam mengenai potensi penyelenggaraan pelatihan tatap muka (offline), pemateri menyambut positif rencana strategis tersebut. Pelatihan langsung dinilai dapat memperdalam pemahaman teknis para kader di tingkat wilayah dan daerah.
Bang Defri memberikan catatan bahwa pada pelatihan offline mendatang, setiap pengurus wilayah/daerah minimal harus mengirimkan dua pemuda yang siap untuk dibina secara mendalam. Para peserta tersebut nantinya diproyeksikan menjadi agent of change yang membawa perubahan dan efisiensi teknologi di daerah penugasannya masing-masing.
Melalui konsolidasi dan optimalisasi teknologi digital ini, Hidayatullah mempertegas posisinya sebagai organisasi modern yang adaptif dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk efisiensi kelembagaan serta penguatan syiar dakwah di era modern.
Editor: Aminudin
