SURABAYA (hidayatullah.com) โ Gema Ramadan mulai terasa di Kota Pahlawan. Menyambut bulan suci yang tinggal menghitung hari, jamaah Hidayatullah Surabaya menggelar acara Tarhib Ramadan dengan penuh khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Pimpinan Majlis Syura Hidayatullah, Ustaz Nashirul Haq, menekankan pentingnya manajemen tekad sebagai bahan bakar utama menjalankan ibadah secara spektakuler.
“Seseorang mampu melakukan hal yang luar biasa, hal yang spektakuler, itu semua karena tekad. Sebaliknya, hal berat bisa terasa ringan dilakukan, dan hal buruk bisa mudah ditinggalkan, juga karena kekuatan tekad,” ujar Ustaz Nashirul di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

Menurutnya, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum bagi para aktivis dakwah untuk melakukan “recharge” spirit selama sebulan penuh. Ia membedah tiga persiapan utama yang harus dimatangkan oleh setiap muslim sebelum memasuki gerbang Ramadan:
1. Fondasi Tekad dan Pengorbanan
Ustaz Nashirul mengingatkan bahwa Allah SWT memberikan penilaian hambanya berdasarkan tingkat pengorbanannya. Tanpa tekad yang bulat, ibadah hanya akan menjadi penggugur kewajiban tanpa esensi.
2. Bekal Ilmu Menuju ‘Ahsanu Amala’
Persiapan kedua adalah ilmu. Merujuk pada QS Al-Mulk ayat 2, beliau menjelaskan bahwa ilmu menentukan kualitas amalan seseorang. “Kita mengejar ahsanu amala (amal terbaik), bukan sekadar kuantitas. Tanpa ilmu, amalan yang besar bisa jadi kehilangan nilai kualitasnya di hadapan Allah,” pesannya.
3. Kesiapan Fisik dan Finansial (Infaq)
Terakhir, persiapan fisik dan sarana finansial menjadi penunjang yang tak kalah penting. Secara khusus, beliau menyoroti budaya berinfaq yang sering kali hanya mengandalkan sisa harta.
“Jangan menunggu sisa untuk berinfaq, tapi sisihkan sejak awal. Biasakan infaq meski sedikit agar terlatih. Begitu harta bertambah, kita sudah terbiasa mengeluarkan jumlah yang lebih besar tanpa berat hati,” imbuhnya.
Target Amaliyah: Satu Mushaf Satu Terjemahan
Sebagai panduan praktis selama Ramadan, Ustaz Nashirul mendorong jemaah untuk memperbaiki kualitas interaksi dengan Al-Qur’an melalui metode talaqqi (belajar langsung dengan guru) untuk memastikan bacaan yang benar. Selain itu, beliau menargetkan program baca terjemah minimal satu mushaf khatam dalam satu bulan.
“Ramadan adalah momen menata kualitas diri. Baik dalam hal ilmu, iman, maupun amal, agar kita keluar sebagai insan yang lebih terpuji,” pungkasnya.
Reporter: Hakim
Editor: Aminudin

