Oleh : Drs. Aep Saepuddin*
SURABAYA (hidayatullahjatim.com) – Silaturahmi Syawal kader Jawa–Nusa Tenggara di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya bukan sekadar pertemuan tahunan. Ia adalah titik temu ruhani, tempat sejarah, amanah, dan harapan masa depan saling berkelindan dalam satu kesadaran: menjaga jati diri perjuangan dari generasi ke generasi.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, silaturahmi ini menjadi ruang kembali—bukan hanya kembali secara fisik, tetapi kembali kepada makna. Makna tentang siapa kita sebagai kader, tentang jalan apa yang sedang kita tempuh, dan tentang sistem apa yang sedang kita jaga. Hidayatullah tidak sekadar organisasi; ia adalah jalan berislam dalam bingkai Imamah Jamaah, di mana setiap kader memikul dua amanah sekaligus: sebagai Abdullah yang tunduk total kepada Allah, dan sebagai Khalifatullah yang bertanggung jawab menata kehidupan dalam sistem kepemimpinan.
Karena itu, silaturahmi ini tidak bisa dipahami sebagai seremonial. Ia adalah simpul ideologis dan ruhiyah. Di dalamnya ada kesinambungan sanad perjuangan—yang merentang sejak perintisan dakwah tahun 1985, ketika Ustadz Abdurrahman memulai ikhtiar besar di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara dengan Surabaya sebagai titik tolak. Dari jejak itulah, hari ini kita menyaksikan bagaimana kader-kader Hidayatullah telah tersebar ke seluruh penjuru Nusantara, membawa misi yang sama, dalam sistem yang sama.
Silaturahmi Syawal ini, yang telah dirintis sejak akhir 1980-an dan terus dibudayakan hingga hari ini, berdiri di atas tiga pilar kesadaran. Pertama, kesyukuran. Bukan sekadar syukur atas nikmat berislam, tetapi syukur atas nikmat berislam dalam sistem. Sebuah sistem kepemimpinan yang menautkan nilai, amal, dan arah perjuangan. Kita tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dalam barisan yang terikat oleh visi, oleh manhaj, dan oleh kepemimpinan. Di sinilah nikmat itu terasa utuh—karena Islam tidak hanya diyakini, tetapi dihidupkan dalam jamaah.
Kedua, sowan sebagai adab ruhani. Mengunjungi, bersambung, dan mengambil berkah dari para perintis—khususnya Ustadz Abdurrahman—bukan sekadar tradisi, tetapi kebutuhan spiritual. Karena keberkahan perjuangan tidak hanya lahir dari kerja keras, tetapi juga dari keterhubungan hati dan sanad. Dalam sowan itu, ada harapan agar keberkahan yang dahulu ditanam tetap terjaga, mengalir, dan menguatkan langkah kader-kader yang melanjutkan estafet ini.
Ketiga, penguatan dan keberlanjutan. Silaturahmi ini adalah ruang konsolidasi jiwa dan arah. Di sini, kader saling menguatkan, menyatukan kembali niat, dan meneguhkan langkah. Dakwah dan tarbiyah bukan tugas sesaat, tetapi proyek peradaban yang panjang. Ia membutuhkan energi kolektif, kesabaran struktural, dan kesetiaan pada manhaj. Silaturahmi menjadi titik isi ulang—agar langkah yang panjang ini tidak kehilangan ruhnya.
Maka, ketika kader berkumpul dalam Silaturahmi Syawal ini, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya hubungan antar inidividu, tetapi jati diri gerakan. Sebuah jati diri yang lahir dari iman, dibingkai dalam kepemimpinan, dan diarahkan pada misi besar: menghadirkan Islam sebagai sistem kehidupan. Di sinilah silaturahmi menemukan makna terdalamnya—sebagai penjaga arah, penguat langkah, dan pengikat hati dalam satu barisan perjuangan. Dari Surabaya, dari jejak para perintis, menuju masa depan yang terus kita bangun bersama.
*Kadep Dakwah DPW Jatim

