hidayatullahjatim.com – Ketika berbicara tentang mutu sekolah, kita sering lebih dulu melihat gedung, ruang kelas, kurikulum, fasilitas, program unggulan, dan capaian peserta didik. Semua itu memang penting. Namun ada satu unsur yang jauh lebih menentukan dan tidak bisa digantikan oleh apa pun, yaitu guru. Sekolah boleh memiliki fasilitas yang bagus dan kurikulum yang rapi, tetapi jika guru tidak mampu menghadirkan nilai dalam proses pendidikan, hasilnya akan terbatas. Sebaliknya, di tangan guru yang baik, ruang kelas yang sederhana pun dapat menjadi tempat tumbuhnya ilmu, adab, semangat, dan cita-cita besar. Karena itu, ketika kita membicarakan masa depan pendidikan Hidayatullah, sesungguhnya kita sedang membicarakan kualitas para gurunya.
Guru tentu sebuah profesi. Ia membutuhkan kemampuan mengajar, penguasaan materi, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghargaan yang layak. Kita tidak boleh menuntut guru menjalankan tugas besar tetapi mengabaikan kebutuhan mereka untuk terus berkembang dan hidup dengan baik. Namun di lingkungan pendidikan Hidayatullah, tugas guru mempunyai makna yang lebih dalam. Guru bukan hanya orang yang menyelesaikan jam pelajaran, membagikan tugas, mengoreksi ujian, lalu pulang ketika pekerjaan selesai. Setiap hari ia berhadapan dengan anak-anak yang sedang mencari bentuk dirinya. Cara guru berbicara, bersikap, mengambil keputusan, menepati janji, menjaga shalat, menghargai orang lain, bahkan cara menghadapi kesalahan murid, semuanya sedang dibaca dan ditiru oleh anak.
Di sinilah kita memahami bahwa guru adalah pembawa misi. Misi itu tidak berarti setiap guru harus terus-menerus berceramah tentang agama. Guru matematika tetap harus mengajar matematika dengan baik, guru sains harus kuat dalam sains, dan guru bahasa harus sungguh-sungguh mengembangkan kemampuan bahasa peserta didik. Tetapi di balik mata pelajaran yang berbeda, ada nilai yang sama-sama dibawa: kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kecintaan kepada ilmu, adab, disiplin, dan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah dari Allah. Dengan cara seperti ini, pendidikan tidak terpecah antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Seluruh guru ikut membentuk manusia, hanya melalui pintu yang berbeda-beda.
Tantangannya, kesibukan sekolah kadang membuat peran guru menyempit. Ada banyak administrasi yang harus diselesaikan, target kurikulum yang harus dikejar, kegiatan yang harus dilaksanakan, laporan yang harus dibuat, dan berbagai tuntutan dari orang tua serta lembaga. Dalam keadaan seperti itu, guru dapat terjebak hanya menyelesaikan pekerjaan harian. Yang penting materi selesai, nilai masuk, administrasi lengkap, dan kelas berjalan tertib. Semua itu memang diperlukan, tetapi pendidikan akan kehilangan kedalamannya jika hubungan guru dengan murid berhenti pada urusan pelajaran. Anak membutuhkan orang dewasa yang hadir, mengenalnya, menegurnya ketika salah, menguatkannya ketika lemah, dan menunjukkan melalui perilaku bahwa nilai yang diajarkan memang mungkin untuk dijalani.
Karena itu masalah utama kita bukan hanya apakah guru mampu mengajar, tetapi apakah guru memahami untuk apa ia mengajar. Seorang guru yang memahami misi akan melihat murid bukan sekadar angka dalam daftar hadir. Ia sadar bahwa anak yang hari ini sulit diatur mungkin kelak menjadi pemimpin. Anak yang sekarang tertinggal mungkin mempunyai potensi besar yang belum ditemukan. Anak yang sedang melakukan kesalahan tidak selalu membutuhkan kemarahan, tetapi bisa jadi membutuhkan bimbingan dan keteladanan. Cara pandang seperti ini membuat tugas guru menjadi lebih manusiawi. Guru tetap tegas, tetap menjaga aturan, tetapi ia tidak kehilangan tujuan besar bahwa tugasnya adalah membantu anak tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Untuk itu, pembinaan guru perlu mendapat perhatian serius. Pelatihan tidak cukup hanya membahas metode mengajar, penggunaan teknologi, atau penyusunan perangkat pembelajaran. Semua itu penting, tetapi guru juga perlu terus dikuatkan pemahamannya tentang visi pendidikan Hidayatullah, nilai-nilai yang hendak diwariskan, dan tanggung jawabnya sebagai teladan. Pembinaan seperti ini tidak harus selalu dalam acara besar. Ia dapat berlangsung melalui halaqah guru, pertemuan rutin, kajian, pendampingan kepala sekolah, diskusi pengalaman mengajar, serta budaya saling mengingatkan. Yang terpenting, guru memiliki ruang untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari sebuah pekerjaan besar, bukan sekadar pelaksana jadwal sekolah.
Kepala sekolah memegang peran penting dalam proses ini. Ia tidak cukup hanya memastikan administrasi rapi dan program berjalan. Kepala sekolah harus mampu menjaga suasana agar para guru memahami arah yang sama. Ia perlu memberi contoh, membangun komunikasi yang sehat, mengenali kebutuhan guru, dan memastikan bahwa nilai yang ditulis dalam visi sekolah benar-benar hidup dalam keseharian. Pada saat yang sama, yayasan dan pengelola lembaga juga harus memperhatikan kesejahteraan, beban kerja, kesempatan belajar, dan penghargaan terhadap guru. Kita tidak dapat meminta guru menjadi teladan yang kuat jika sistem justru membuat mereka kelelahan tanpa dukungan. Misi yang besar memerlukan manusia yang kuat, dan manusia yang kuat tumbuh dalam sistem yang sehat.
Pada akhirnya, anak mungkin akan lupa sebagian pelajaran yang pernah diterimanya, tetapi sering kali ia tidak lupa kepada guru yang pernah menyentuh hidupnya. Ia mengingat guru yang mengajarinya jujur, yang mempercayainya ketika orang lain meragukannya, yang menegurnya dengan baik, yang menunjukkan arti disiplin, atau yang membuatnya berani mempunyai cita-cita. Jejak seperti itulah yang menjadikan pekerjaan guru begitu penting. Karena itu, kita perlu terus menjaga satu kesadaran: di sekolah Hidayatullah, guru bukan hanya mengajar untuk hari ini. Ia sedang menanam sesuatu yang mungkin baru tumbuh bertahun-tahun kemudian. Guru mengajarkan ilmu, membentuk kebiasaan, memberi teladan, dan pada saat yang sama ikut membawa misi pendidikan kepada generasi berikutnya.
Jika kita ingin sekolah-sekolah Hidayatullah melahirkan generasi yang bertauhid, beradab, berilmu, mandiri, dan siap memberi manfaat, maka penguatan guru harus menjadi pekerjaan utama. Kurikulum dapat diperbaiki, fasilitas dapat ditambah, dan teknologi dapat terus diperbarui, tetapi manusia tetap menjadi pusat pendidikan. Dari keteladanan gurulah anak belajar bahwa nilai bukan sekadar kata-kata. Dari kesungguhan gurulah anak belajar mencintai ilmu. Dan dari kehadiran gurulah sebuah sekolah memiliki jiwa. Maka ketika kita mengatakan bahwa guru adalah pembawa misi, sesungguhnya kita sedang mengingatkan bahwa masa depan gerakan juga sedang dibentuk melalui tangan, ucapan, dan keteladanan para pendidiknya.
Amun Rowi
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur
