KH Naspi Arsyad Dorong Hidayatullah Jatim Seimbangkan Struktur, Infrastruktur, dan Jati Diri

KH Naspi Arsyad Dorong Hidayatullah Jatim Seimbangkan Struktur, Infrastruktur, dan Jati Diri

SURABAYA (hidayatullahjatim.com) – Kemajuan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kuatnya kepengurusan dan lengkapnya infrastruktur. Organisasi juga membutuhkan jati diri yang kokoh agar setiap program memiliki arah, nilai, dan ruh perjuangan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sekaligus pendamping Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur, KH Naspi Arsyad, Lc., dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Semester Ganjil Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPW Hidayatullah Jawa Timur, Surabaya, Jumat (17/7/2026), tersebut menjadi forum untuk mengevaluasi capaian program, memvalidasi data organisasi, serta merumuskan langkah strategis menghadapi semester genap 2026.

Dalam arahannya, Naspi menjelaskan bahwa terdapat tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam membangun dan mengembangkan organisasi, yaitu struktur, infrastruktur, dan suprastruktur.

“Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam organisasi kita, yaitu suprastruktur, infrastruktur, dan struktur. Kita yang sedang diberikan amanah kepengurusan merupakan bagian dari struktur. Berbagai amal usaha yang kita bangun adalah infrastruktur, sedangkan jati diri organisasi merupakan suprastruktur,” jelasnya.

Menurut Naspi, ketiga unsur tersebut harus tumbuh secara seimbang. Struktur bertugas menjalankan roda organisasi dan memastikan program dapat terlaksana. Infrastruktur menjadi sarana untuk memperluas pelayanan dan kebermanfaatan. Sementara itu, suprastruktur berupa nilai, jati diri, dan orientasi perjuangan menjadi fondasi yang mengarahkan seluruh aktivitas organisasi.

Tanpa suprastruktur yang kuat, lanjut dia, program kerja berisiko hanya menjadi kegiatan administratif dan rutin. Infrastruktur yang dibangun juga berpotensi kehilangan makna apabila tidak dijiwai oleh nilai-nilai perjuangan organisasi.

Apresiasi Kinerja DPW Jawa Timur

Naspi mengapresiasi kinerja DPW Hidayatullah Jawa Timur yang dinilai telah menjalankan amanah organisasi dengan baik. Berbagai program yang disusun pada semester ganjil telah dilaksanakan oleh masing-masing departemen dan menghasilkan perkembangan positif.

“Alhamdulillah, DPW Hidayatullah Jawa Timur sebagai struktur yang mendapatkan amanah dari DPP telah melaksanakan tugas dengan sangat baik. Program kerja yang telah dijalankan juga menghasilkan infrastruktur yang luar biasa,” ujarnya.

Menurut dia, perkembangan amal usaha, lembaga pendidikan, aktivitas dakwah, pembinaan kader, serta program sosial dan ekonomi menunjukkan bahwa Hidayatullah Jawa Timur memiliki potensi yang besar.

Meski demikian, Naspi mengingatkan agar keberhasilan program dan pembangunan infrastruktur tetap diikuti dengan penguatan suprastruktur organisasi. Pengurus tidak boleh hanya berorientasi pada banyaknya kegiatan, kelengkapan fasilitas, ataupun capaian yang bersifat fisik.

“Tetapi, saya berpesan agar suprastruktur kita menjadi fokus utama. Struktur yang baik dan infrastruktur yang kuat harus tetap berpijak pada jati diri organisasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, keseimbangan tersebut penting agar setiap kegiatan tidak berhenti pada pencapaian target program. Seluruh aktivitas organisasi harus mampu membentuk kader, menguatkan jamaah, dan memberikan dampak nyata kepada masyarakat.

Sistematika Wahyu Menjadi Ruh Gerakan

Naspi menerangkan, Hidayatullah memiliki enam jati diri yang menjadi landasan dalam menjalankan gerakan organisasi. Dari enam jati diri tersebut, sistematika wahyu serta imamah-jamaah merupakan unsur inti yang harus terus diinternalisasikan kepada seluruh kader.

“Dari enam jati diri kita, sistematika wahyu dan imamah-jamaah merupakan inti. Keduanya akan membuat struktur bekerja bukan hanya sebagai pelaksana program kerja, tetapi memiliki ruh jihad dan semangat perjuangan,” katanya.

Menurut alumnus Madinah dan praktisi parenting tersebut, jati diri organisasi memberikan nilai terhadap seluruh aktivitas yang dilakukan. Infrastruktur yang megah akan semakin bermartabat apabila di dalamnya terdapat nilai, keteladanan, dan orientasi pengabdian.

Sebaliknya, fasilitas yang masih sederhana tetap dapat memberikan daya tarik dan pengaruh apabila dihidupkan oleh semangat perjuangan serta pelayanan yang tulus.

“Infrastruktur yang megah akan menjadi lebih bermartabat apabila di dalamnya terdapat ruh perjuangan. Bahkan, kalaupun infrastrukturnya masih sederhana, ia tetap memiliki daya tarik ketika nilai dan jati dirinya kuat,” ungkapnya.

Naspi meminta agar internalisasi sistematika wahyu tidak hanya berlangsung pada tingkat pimpinan. Nilai tersebut harus menjangkau seluruh lapisan kader dan tercermin dalam pelaksanaan setiap program.

Ia mencontohkan kegiatan halaqah. Menurutnya, halaqah tidak boleh dipahami hanya sebagai program struktural yang wajib dilaksanakan. Halaqah harus menjadi ruang pembinaan yang mampu menguatkan akidah, spiritualitas, pemikiran, kedisiplinan, dan komitmen kader.

“Internalisasikan sistematika wahyu kepada seluruh lapisan kader. Program halaqah sebagai program struktural dan tempat halaqah sebagai infrastruktur jangan hanya menjadi rutinitas. Halaqah harus menjadi satu langkah untuk membangun peradaban Islam,” pesannya.

Prinsip serupa, lanjut dia, juga harus diterapkan dalam program pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, keuangan, dan pengembangan organisasi. Setiap program perlu memiliki hubungan yang jelas dengan misi besar Hidayatullah.

“Demikian pula dengan program-program lainnya. Jangan hanya berhenti pada terlaksananya kegiatan. Harus ada nilai yang ditanamkan, kader yang dikuatkan, dan manfaat yang dirasakan oleh umat,” imbuhnya.

Evaluasi Program Semester Ganjil

Dalam Monev Semester Ganjil 2026 tersebut, DPW Hidayatullah Jawa Timur menyampaikan laporan pelaksanaan program kerja selama enam bulan pertama. Setiap departemen memaparkan capaian, kendala, serta rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan pada semester berikutnya.

Evaluasi meliputi sejumlah bidang prioritas, antara lain sekretariat, organisasi, keuangan, perkaderan, dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Hasil evaluasi digunakan untuk mengukur ketercapaian target sekaligus memetakan program yang masih membutuhkan penguatan.

DPW Hidayatullah Jawa Timur juga melakukan validasi dan pembaruan data organisasi di 38 DPD se-Jawa Timur. Validasi tersebut meliputi data kepengurusan, kader, halaqah, aktivitas dakwah, Rumah Qur’an Hidayatullah, lembaga pendidikan, amal usaha, serta realisasi kontribusi organisasi.

Pembaruan data tersebut dinilai penting agar kebijakan dan program pendampingan tidak disusun berdasarkan perkiraan. Setiap rekomendasi harus berangkat dari kondisi riil dan kebutuhan masing-masing DPD.

Melalui laporan tersebut, DPW juga memetakan daerah yang telah menunjukkan perkembangan positif dan daerah yang masih membutuhkan pendampingan. DPD dengan capaian baik diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain, sedangkan DPD yang masih menghadapi kendala akan mendapatkan pengawalan lebih intensif.

Hasil Monev selanjutnya menjadi dasar dalam menyusun program semester genap 2026. Sejumlah agenda yang akan diperkuat antara lain digitalisasi perencanaan dan pelaporan, pengawalan kontribusi organisasi, standardisasi halaqah, peningkatan kapasitas murabbi, penguatan aktivitas dakwah, peningkatan mutu pendidikan, serta pengembangan kemandirian ekonomi.

Potensi Besar Hidayatullah Jawa Timur

Naspi menilai Hidayatullah Jawa Timur memiliki modal organisasi yang cukup besar. Struktur kepengurusan relatif lengkap dan didukung sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai bidang masing-masing.

Jaringan organisasi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota juga menjadi kekuatan untuk memperluas pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, keberadaan lembaga pendidikan, amal usaha, kegiatan dakwah, serta program sosial memberikan peluang besar bagi Hidayatullah Jawa Timur untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.

“Hidayatullah Jawa Timur memiliki komposisi struktur yang relatif merata. Banyak pengurus memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Infrastruktur yang dimiliki juga cukup lengkap,” tuturnya.

Seluruh potensi tersebut, menurut Naspi, harus dikelola dengan tata kelola yang baik, kolaboratif, dan tetap berpijak pada jati diri organisasi. Penguatan suprastruktur harus berjalan bersama dengan peningkatan kapasitas struktur dan pengembangan infrastruktur.

“Dengan suprastruktur yang kuat, struktur yang kompeten, dan infrastruktur yang memadai, insya Allah Hidayatullah Jawa Timur akan memberikan kebermanfaatan yang semakin besar bagi organisasi, umat, dan bangsa,” pungkasnya.

Monev Semester Ganjil 2026 tidak hanya menjadi forum pemeriksaan capaian administratif. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memastikan seluruh unsur organisasi bergerak dalam satu arah: menguatkan struktur, mengembangkan infrastruktur, serta meneguhkan jati diri sebagai ruh perjuangan Hidayatullah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *