SIDOARJO (hidayatullahjatim.com) – Sabtu pagi (13/6) itu, dada saya bergemuruh sejak melangkahkan kaki ke Hall SMAN 3 Sidoarjo. Hari ini adalah Haflah Akhir Sanah (wisuda) MTs dan SMA Hidayatullah Sidoarjo. Hari yang sudah bertahun-tahun kami—para orang tua—tunggu, sekaligus kami tangisi dalam doa-doa sepertiga malam.
Ketika 31 santriwati mulai memasuki ruangan dengan anggun, mata saya langsung mencari satu wajah. Wajah putri kami. Seketika, memori bertahun-tahun lalu berputar seperti film. Ingatan saat pertama kali melepasnya di gerbang pesantren: tangisnya yang tak mau ditinggal, rasa cemas kami di rumah memikirkan apakah dia bisa mandiri, hingga rindu yang harus kami tahan demi pendidikannya.
Namun, semua keraguan dan lelah itu menguap tanpa sisa hari ini.
Suasana berubah menjadi sangat syahdu dan menguras air mata saat prosesi penghargaan bagi santriwati yang berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Saya melihat para ibu di sebelah saya mulai sesenggukan, menyeka air mata dengan tisu yang sudah basah kuyup. Termasuk Pak Darmaji, salah satu wali santri yang duduk tak jauh dari saya. Dengan mata berkaca-kaca, ia membisikkan rasa syukurnya yang mendalam.
“Banyak kenangan, perjuangan, dan pengorbanan yang telah dilalui. Alhamdulillah, hari ini kami melihat hasilnya. Semoga ilmu dan hafalannya menjadi bekal terbaik untuk masa depannya,” ucap Pak Darmaji bergetar. Kami semua merasakan hal yang sama: bangga yang tak terlukiskan.
Apresiasi Tinggi untuk Para Pengasuh
Mendengar putri-putri kami dididik hingga menjadi seorang hafizhah tentu bukan mukjizat yang datang tiba-tiba. Kami sadar betul ada keringat dan keikhlasan luar biasa dari para guru dan pengasuh.
Keputusan kami “menitipkan” anak di Hidayatullah Sidoarjo adalah langkah yang tepat. Hal itu dipertegas oleh Ketua Yayasan, Ustadz Amin, yang menyampaikan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kerja bersama yang patut disyukuri.
Melepas dengan Doa ke Medan Perjuangan Baru
Sebelum melangkah keluar dari aula, sebuah pesan mendalam dari Kepala Sekolah MTs-SMA Hidayatullah, Ustazah Tuti, benar-benar menancap di hati kami sebagai orang tua. Beliau mengingatkan anak-anak kami bahwa kelulusan ini adalah awal perjuangan yang sesungguhnya di luar pondok.
“Kami berpesan agar seluruh santri tetap menjaga shalatnya, menjaga adabnya, serta terus murojaah dan memelihara hafalan Al-Qur’annya di mana pun berada,” pesan Ustazah Tuti.
Saat sesi foto bersama dan doa penutup dikumandangkan, saya langsung memeluk putri saya dengan sangat erat. Air mata kami tumpah bersama. Tugas pondok mungkin telah selesai, namun tugas kami sebagai orang tua untuk terus menjaganya di lingkungan masyarakat baru saja dimulai.
Selamat bagi putri-putri kami, 31 wisudawati MTs dan SMA Hidayatullah Sidoarjo. Terbanglah tinggi, jagalah akhlakmu, dan tetaplah menjadi penjaga Al-Qur’an di mana pun kalian berada. Kami ridha atas perjuanganmu.
Editor: Aminudin

