“Sebelum Membimbing Santri, Kami Menata Hati: Catatan Guru SMA Ar-Rohmah di Kajian Spesial Ramadhan”

“Sebelum Membimbing Santri, Kami Menata Hati: Catatan Guru SMA Ar-Rohmah di Kajian Spesial Ramadhan”

MALANG (hidayatullah.com) – Memasuki Ramadhan 1447 H, ada pemandangan yang berbeda di ruang pertemuan SMA Ar-Rohmah Putra. Bukan rapat kurikulum atau teknis pengajaran yang kami hadapi, melainkan sebuah momen untuk menundukkan hati. Senin (23/2), kami para guru berkumpul untuk mereguk ilmu langsung dari Murobi Hidayatullah Jawa Timur, Ust. Alimin Mukhtar.

Mengasah “Pedang” Spiritual

Sebagai guru, kami sadar bahwa sebelum membimbing para santri melewati bulan yang mulia ini, diri kamilah yang harus lebih dulu “diisi”. Ust. Alimin membedah kitab Al-Ma’muraat dengan sangat mendalam, khususnya pada bab-bab yang menjadi fondasi karakter kami:

  • Kejujuran (As-Sidqu): Mengingatkan kami untuk lurus dalam niat mengajar.

  • Muraqabah: Menghadirkan rasa diawasi Allah di setiap sudut kelas.

  • Taqwa & Istiqomah: Menjaga konsistensi kami sebagai teladan.

  • Yakin & Tawakal: Sandaran utama kami dalam menghadapi dinamika mendidik santri.

Bukan Sekadar Transfer Ilmu

Kepala Sekolah kami, Ust. Fahmi Ahmad, menekankan bahwa agenda ini adalah ikhtiar agar “transfer ilmu” yang kami lakukan kepada santri memiliki keberkahan. Kami merasakan betul bahwa tanpa kualitas ruhiyah yang standar, kata-kata kami di depan kelas mungkin hanya akan sampai di telinga, bukan di hati para santri.

“Kajian ini seperti oase. Di tengah kesibukan mengelola asrama dan kelas, materi tentang Muraqabah dan Istiqomah benar-benar menyegarkan semangat dakwah kami agar tetap tulus,” ujar salah satu rekan guru menanggapi pesan dari Ust. Aep Saepudin (DPW Hidayatullah Jatim).

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Dukungan dari Ust. Muhammad Solehan pun kian menguatkan tekad kami. Beliau mengingatkan bahwa pendidikan yang berhasil dimulai dari guru yang tak berhenti belajar. Melalui kajian ini, kami merasa kembali diingatkan bahwa predikat “guru” bukan sekadar jabatan fungsional, melainkan tanggung jawab intelektual dan kematangan spiritual.

Kini, kami merasa lebih siap. Bukan hanya siap dengan modul ajar, tapi siap mendampingi santri dengan hati yang lebih tertata selama Ramadan ini.

Editor: Aminudin

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *