MALANG (hidayatullahjatim.com) โ Di balik deru mesin kota dan riuhnya notifikasi media sosial, terselip jiwa-jiwa yang seringkali merasa lelah. Tekanan pekerjaan dan ekspektasi dunia yang tak kunjung usai kerap menyisakan ruang hampa di dalam dada. Menjawab kegelisahan tersebut, DPD Hidayatullah Kota Malang menghadirkan sebuah refleksi mendalam tentang hakikat ibadah sebagai obat bagi jiwa yang penat.
Dalam tausiyah yang menyentuh sanubari pada Senin (9/3), Ustadz Salim Rahmatullah, mengajak jamaah di Masjid Permata Al-Falah untuk memaknai kembali shalat bukan sebagai beban rutin, melainkan sebagai “waktu pulang”.
“Dunia ini melelahkan jika kita hadapi sendirian. Shalat yang khusyuk adalah cara kita ‘mengisi ulang’ nyawa iman. Saat dahi menyentuh bumi, sebenarnya kita sedang membisikkan lelah kita ke langit agar hati kembali lapang,” ungkap Ustadz Salim yang juga menjabat sebagai Kadep Dakwah DPD Hidayatullah Kota Malang.
Menemukan Kedamaian di Tengah Riuh
Dalam paparan materinya, Ustaz Salim menggarisbawahi beberapa esensi penting mengapa manusia modern sangat membutuhkan shalat yang berkualitas:
-
Oase di Tengah Hiruk Pikuk: Kehidupan modern sering memaksa manusia mengejar target duniawi hingga mengalami burnout. Banyak yang mencari ketenangan lewat hiburan sementara, namun hanya shalat yang mampu memberikan ketenangan hakiki melalui komunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
-
Hakikat Khusyuk: Khusyuk bukan sekadar diam, melainkan hadirnya hati, pikiran, dan kesadaran penuh. Memahami setiap bait bacaan shalat mengubah gerakan fisik menjadi dialog batin yang menggetarkan.
-
Sajadah sebagai Charger Energi: Ibarat ponsel yang kehabisan daya, jiwa manusia butuh diisi ulang. Shalat lima waktu adalah momentum berkala untuk mengisi baterai keimanan agar seseorang tetap kuat, sabar, dan bijak menghadapi persoalan hidup.
Langkah Menuju Shalat yang Menghidupkan
Tak hanya memaparkan teori, Ustadz Salim juga membagikan kiat praktis untuk meningkatkan kualitas shalat, di antaranya dengan meluruskan niat hanya karena Allah, menjaga kesempurnaan wudhu, hingga merenungi kebesaran-Nya di setiap perpindahan gerakan.
“Dampaknya nyata. Orang yang shalatnya khusyuk, perilakunya akan terjaga dan hatinya jauh lebih tenteram. Ia akan menjalani dunia dengan lebih seimbang dan bermakna,” tambahnya sembari mengutip QS. Al-Ankabut: 45 sebagai landasan kekuatan shalat dalam mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Apresiasi Wilayah
Kegiatan ini mendapat perhatian khusus dari tingkat wilayah. Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz Aep Saepudin, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif dakwah yang menyentuh sisi psikologis umat ini.
“Kami sangat bangga dengan konsistensi DPD Kota Malang. Pendekatan dakwah yang humanis dan solutif seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat urban saat ini,” ujar Ustadz Aep.
Senada dengan itu, Pengurus DPD Hidayatullah Kota Malang, Jumari, menegaskan komitmennya untuk terus menebar manfaat. “Kami ingin memastikan bahwa setiap program dakwah kami mampu menjadi pegangan bagi umat dalam menjaga kewarasan mental dan spiritual mereka,” pungkas Jumari.
Reporter: Achmad Fauzan
Editor: Aminudin

