Hidayatullahjatim.com – PPTQ Al-Mubarok Hidayatullah Bojonegoro kembali menyelenggarakan Kajian Rabu Malam bertajuk “Jangan Anggap Sholat Hanya Kewajiban, di Dalamnya Ada Pintu Cahaya” yang dihadiri oleh para santri dan jamaah setempat di Kompleks PPTQ Al-Mubarok Hidayatullah, Bojonegoro, Rabu (7/10/2026) malam. Dalam pemaparannya, pembicara utama Ustadz Abdullah Ridho A. menyoroti maraknya fenomena masyarakat yang menjalankan shalat sebatas gerakan fisik dan hafalan bacaan tanpa menghadirkan kesadaran batin. Menanggapi fenomena tersebut, beliau menekankan bahwa nilai hakiki shalat diukur dari sejauh mana ibadah tersebut mampu menghadirkan ketenangan serta mencegah perbuatan keji dan mungkar dalam kehidupan sehari-hari.
“Shalat bukan sekadar gerakan fisik, bacaan, dan hitungan rakaat. Di dalamnya terdapat ruang untuk seorang hamba berkomunikasi dengan Allah, mengingat-Nya, memohon ampun, menenangkan hati, sekaligus memperbaiki kehidupan setelah meninggalkan tempat shalat,” kata Ustadz Abdullah Ridho A. saat menyampaikan materi kajian di Kompleks PPTQ Al-Mubarok Hidayatullah Bojonegoro, Rabu (7/10/2026) malam.
Dalam ceramahnya, Ustadz Abdullah Ridho mengutip pandangan Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam yang menyebut shalat sebagai tempat bermunajat dan sumber kejernihan hati. Beliau menjelaskan bahwa landasan utama penegakan shalat adalah untuk mengingat Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Thaha ayat 14. Oleh karena itu, syarat sah lahiriah seperti wudhu, rukun, dan gerakan shalat harus disempurnakan dengan pekerjaan hati yang penuh dengan rasa tunduk dan keikhlasan.
Selain sebagai wahana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, shalat lima waktu juga berfungsi sebagai sarana pembersih dosa dan evaluasi diri secara berkala. Menjelaskan analogi Rasulullah SAW mengenai seseorang yang mandi lima kali sehari di sungai depan rumahnya, Ustaz Abdullah Ridho mengingatkan bahwa shalat yang ditunaikan dengan benar akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kecil di antara waktu shalat, sebagaimana dioperasionalkan dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Dampak Akhlak dan Karakter Kebatinan
Lebih lanjut, Ustadz Abdullah Ridho menegaskan indikator keberhasilan shalat seseorang merujuk pada Surah Al-‘Ankabut ayat 45, di mana shalat yang ideal harus mampu menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar. Jika seseorang rutin mendirikan shalat namun perilakunya masih didominasi oleh dusta, fitnah, dan amarah, maka kualitas penghayatan hatinya dalam shalat perlu dievaluasi secara mendalam.
“Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya ‘berapa lama lagi shalat ini selesai?’, melainkan ‘apakah dalam shalat ini hati saya benar-benar menghadap Allah?’. Pengaruh shalat tidak berhenti ketika salam terakhir diucapkan, tetapi harus dibawa keluar dari masjid dan tercermin dalam akhlak serta kehidupan sehari-hari,” ujar Ustaz Abdullah Ridho A. di Kompleks PPTQ Al-Mubarok Hidayatullah Bojonegoro, Rabu (7/10/2026) malam.
Pelaksanaan Kajian Rabu Malam ini turut mendapat apresiasi positif dari jajaran pimpinan organisasi wilayah. Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ustaz Amun Rowie, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi PPTQ Al-Mubarok Hidayatullah Bojonegoro dalam menyelenggarakan kegiatan dakwah yang edukatif dan mencerahkan umat. Beliau berharap pesan-pesan spiritual yang disampaikan dapat terus membina karakter santri dan masyarakat luas agar senantiasa menjadikan shalat sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar beban kewajiban.
Kontributor: Afif
Editor: Aminudin
