Malang (hidayatullahjatim.com) – LPI Ar-Rohmah Putra menggelar agenda Ifthar Jama’i dan Pembekalan Silaturrahmi bagi keluarga besar pesantren di Aula Utama Ar-Rohmah Putra, Selasa (10/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Pembina LPI Ar-Rohmah Putra, Dr. KH. Ali Imron, MA, memberikan paparan mendalam mengenai refleksi ibadah puasa dan tantangan geopolitik global yang tengah bergeser.
Kiai Ali Imron menekankan bahwa ibadah puasa harus memberikan “celupan” mendalam dalam tiga aspek utama: kepemimpinan yang mencerminkan umat, pengabdian potensi diri dalam beribadah dan bekerja, serta menjadikan silaturrohmi sebagai kebanggaan sekaligus solusi bagi keluarga besar pendidik atau mujahid.
“Di pesantren ini kita mengabdi, di pesantren ini kita mengais rezeki. Maka, jadikan pengabdian ini sebagai bagian dari perjuangan besar,” ujar Kiai Ali Imron dalam tausiyahnya.
Hegemoni Barat dan Masa Depan Syam
Dalam analisisnya, Kiai Ali Imron menyoroti sejarah pasca Perang Dunia II. Meski secara ekonomi posisi Inggris sempat tergeser oleh Amerika Serikat melalui Bretton Woods System, namun Inggris tetap menjadi arsitek utama peta Timur Tengah modern melalui Perjanjian Sykes-Picot yang memecah wilayah Syam.
Namun, ia memprediksi akan terjadi pergeseran pusat gravitasi dunia kembali ke wilayah Syam. Hal ini selaras dengan literatur Islam yang menyebut Syam sebagai benteng umat di akhir zaman (Fustathul Muslimin).
“Jika peradaban Barat mencapai titik jenuh atau keruntuhan, secara logis pusat dunia akan bergeser kembali ke wilayah strategis ini. Saat itulah Al-Qur’an harus menjadi manual atau kompas utama karena sistem sekuler akan digantikan oleh nilai wahyu yang lebih resilien menghadapi krisis global,” jelasnya.
Analogi Zaman Batu ke Lithium
Menariknya, Kiai Ali Imron juga memberikan analogi tentang loncatan peradaban manusia, mulai dari zaman batu hingga era baterai lithium saat ini. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi tinggi (lithium) sangatlah rentan.
“Dunia sedang bertransformasi dari energi fosil ke lithium. Namun, jika terjadi ‘restart’ akibat konflik besar atau fenomena alam, manusia bisa kembali ke titik nol. Siapa yang menguasai sumber daya energi baru ini, dialah yang mengendalikan peradaban, namun nilai spiritual tetaplah yang paling abadi,” tambahnya.
Apresiasi dari DPW dan DPD Hidayatullah
Menanggapi agenda tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz Amun Rowie, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi Ar-Rohmah dalam membekali para kadernya dengan wawasan global yang dipadukan dengan nilai-nilai ketauhidan.
“Apa yang disampaikan Dr. KH. Ali Imron adalah pengingat penting bagi kita semua. Pendidikan di pesantren tidak boleh buta terhadap peta dunia. Kita harus menyiapkan santri dan pengajar yang siap menghadapi ‘Normal Baru’ dunia dengan bekal Al-Qur’an,” ungkap Ustadz Amun Rowie.
Senada dengan hal tersebut, Pengurus DPD Hidayatullah Kota Malang, Jumari, menyatakan bahwa kegiatan Ifthar Jama’i ini bukan sekadar ajang buka puasa bersama, melainkan momentum penguatan ideologi dan soliditas organisasi.
“Kami di tingkat daerah sangat bersyukur memiliki sosok pembina yang visioner. Ini menjadi suntikan semangat bagi seluruh pengurus di Malang untuk terus berkhidmat di jalur dakwah dan pendidikan,” pungkas Jumari.
Acara yang berlangsung mulai pukul 15.30 WIB ini ditutup dengan doa bersama dan buka puasa berjamaah dengan semangat “Taqwa, Cerdas, Mandiri”.
Reporter: Achmad Fauzan
Editor: Aminudin

