Jejak Panjang Mujtahid Jakfar: Dakwah yang Terus Bergerak

Jejak Panjang Mujtahid Jakfar: Dakwah yang Terus Bergerak

Rabu, 7 Januari 2026, Musyawarah Daerah (Musda) Hidayatullah Bojonegoro terasa istimewa. Bukan semata karena agenda organisasi yang berjalan khidmat, tetapi karena kehadiran salah satu perintisnya, Ustadz Mujtahid Ja’far, yang datang jauh dari kawasan Tengger, Lumajang. Kehadirannya seperti menghadirkan kembali potongan sejarah panjang dakwah yang dibangun dengan kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan lintas wilayah.

Selepas Musda dan salat Dhuhur, suasana berubah menjadi lebih cair. Kami menemani beliau makan siang di sebuah warung sederhana. Nasi hangat dan sate tersaji di atas meja. Tanpa protokoler, tanpa forum resmi. Dalam suasana santai itulah, cerita panjang dakwah mengalir begitu saja. Ustadz Mujtahid Jakfar—berbaju kaos, raut wajah tenang—bertutur pelan, namun penuh makna.

Ia mengenal Hidayatullah dari sosok Ustadz Abdurrahman, perintis Hidayatullah Surabaya. Saat itu, Ustadz Abdurrahman masih berstatus mahasiswa dan kerap mengadakan kursus bahasa Inggris di Gresik. Mujtahid muda ikut bergabung. Namun ketertarikannya bukan semata pada bahasa asing.

“Ustadz Rahman itu kalau mengajar kursus bahasa Inggris, sepuluh menit menyampaikan grammar, sisanya berjam-jam ganti materi tentang bagaimana berislam,” kenangnya sambil tersenyum.

Dari ruang kursus sederhana itulah, benih kesadaran tumbuh. Bukan sekadar belajar bahasa, tetapi belajar memahami Islam secara utuh dan membumi. Materi tentang bagaimana berislam justru menjadi pintu masuk bagi perjalanan dakwah yang kelak membentang panjang.

Ketika Hidayatullah Surabaya mulai dirintis pada rentang 1986–1988, Mujtahid Jakfar memantapkan pilihan untuk bergabung sepenuhnya. Ia mengikuti pembinaan intensif dan tumbuh bersama gerakan. Di awal 1990-an, ia menjadi bagian dari sejarah nikah massal enam pasangan—sebuah fase penting yang bukan hanya peristiwa keluarga, tetapi peneguhan kesiapan hidup dalam barisan dakwah.

Selepas menikah, medan pengabdian pun terbuka lebar. Ia ditugaskan melakukan penjajakan dakwah di Kabupaten Mojokerto, lalu berpindah ke Jombang yang kala itu baru merintis keberadaan Hidayatullah. Dari Jawa Timur, amanah berikutnya membawanya jauh ke timur Indonesia: Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dakwah di wilayah ini menuntut keteguhan ekstra—berhadapan dengan perbedaan budaya, jarak geografis, dan keterbatasan sarana.

Usai dari Kupang, ia kembali ke Jawa Timur untuk merintis Hidayatullah Banyuwangi. Keberhasilan di daerah ini membuatnya kemudian ditarik ke Surabaya pada awal 2000-an untuk mengawal program ekonomi umat bernama Sakinah Trading. Baginya, dakwah tidak berhenti di mimbar dan pengajian, tetapi juga harus menyentuh kemandirian ekonomi umat.

Setelah program tersebut berjalan, amanah berikutnya datang untuk melanjutkan kepemimpinan Hidayatullah Nganjuk, menggantikan pemimpin sebelumnya. Belum lama beristirahat, ia kembali ditugaskan merintis pembangunan pendidikan formal di Bojonegoro. Pendidikan menjadi fondasi penting dalam menyiapkan kader dan menjaga kesinambungan dakwah.

Kiprah dan kemajuan yang dicapai mengantarkannya dipercaya sebagai pengurus DPW Hidayatullah Jawa Timur periode 2005–2010. Salah satu program utama yang ia kawal adalah dakwah di masyarakat Tengger, Lumajang—wilayah dengan tantangan kultural yang khas, yang menuntut kesabaran panjang, kehadiran yang konsisten, dan pendekatan yang membumi.

Masa kepengurusan DPW berakhir, namun pengabdian tidak pernah selesai. Hingga hari ini, meski usia tak lagi muda, Ustadz Mujtahid Jakfar tetap istiqamah mengawal dakwah di kawasan Tengger Lumajang. Ia hadir tanpa banyak sorotan, bekerja tanpa hiruk-pikuk, dan bertahan dalam kesahajaan.

Mojokerto, Jombang, Kupang, Banyuwangi, Surabaya, Nganjuk, Bojonegoro, DPW, hingga Tengger—deretan nama itu bukan sekadar titik di peta. Ia adalah jejak langkah seorang dai yang terus bergerak dari satu amanah ke amanah lain, tanpa banyak jeda, tanpa keluhan.

Dan siang itu, selepas Dhuhur, di sela-sela makan siang sederhana, kami menangkap satu pelajaran penting: dakwah sering kali tidak lahir dari ruang-ruang formal. Ia tumbuh dari ruang-ruang kecil, dari obrolan jujur, dari guru yang mengajarkan grammar sebentar lalu mengajarkan Islam berjam-jam, dan dari kesetiaan panjang menapaki jalan sunyi.

Ketika obrolan hampir usai dan piring-piring mulai disingkirkan, Ustadz Mujtahid Jakfar menutup ceritanya dengan kalimat singkat yang menghunjam dalam:

“Saya ingin mengakhiri hidup saya di jalan dakwah di tempat tugas.”

Kalimat itu meluncur tanpa dramatik, tanpa nada heroik. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia bukan sekadar pernyataan, melainkan rangkuman dari perjalanan panjang yang telah dijalani.

Bagi Mujtahid Jakfar, dakwah bukan bagian dari hidup. Dakwah adalah hidup itu sendiri.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *