MOJOKERTO (hidayatullahjatim.com) — Dinginnya kabut yang menusuk di kawasan Yayasan Madyan Hidayatullah Trawas serta terjalnya medan lereng Gunung Bekel tidak sedikit pun menyurutkan nyali kami. Sebagai salah satu peserta, Warman, merasakan sendiri bagaimana tiga hari penempaan intensif ini benar-benar menguji batas ketahanan fisik, mental, sekaligus spiritual kami sebagai calon pemimpin masa depan.
Kegiatan yang digagas oleh kampus, STAI Luqman Al-Hakim Surabaya pada 12-14 Juni 2026 ini bukanlah sekadar agenda kemah santai biasa. Mengusung jargon besar “Kuatkan Pengaderan Lahirkan Pemimpin Pilihan”, kami dituntut untuk keluar dari zona nyaman sejak hari pertama melalui rangkaian agenda padat: mulai dari camping, aksi sosial (baksos), kompetisi, hingga tebar Al-Qur’an di sela-sela penjelajahan alam.
Bagi warman dan rekan-rekan peserta, salah satu momen paling membekas sekaligus mendisiplinkan adalah saat mereka menerima materi Manajemen Pendakian. Materi ini diarsiteki dan disampaikan langsung oleh Pengurus TIM SARHID Jawa Timur atas nama Ustadz Umar.
Di bawah bimbingan taktis Ustadz Umar, mereka tidak hanya diajarkan urusan teknis seperti cara pengepakan tas ransel (packing) yang efisien atau membaca navigasi darat. Lebih dari itu, mereka diajarkan filosofi penting mengenai manajemen logistik, pembagian peran dalam tim, serta kalkulasi risiko bahaya di alam bebas. Ustadz Umar menekankan kepada peserta bahwa seorang pemimpin sejati dilarang keras menjadi beban bagi kelompoknya saat berada di medan yang sulit.
Adrenalin mereka kian dipacu hingga ke titik tertinggi saat memasuki sesi kolaborasi luar biasa bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Mereka beruntung bisa menyerap ilmu kepalanganmerahan langsung dari instruktur senior Basarnas, Bapak Bambang Sumantri, yang membekali mereka dengan materi Medical First Responder (MFR).
Jujur saja, simulasi MFR ini sangat menguras mental mereka. Di bawah arahan bapak Bambang Sumantri, mereka dipaksa mempraktikkan langsung simulasi penanganan pertama korban kecelakaan di lapangan. Kami diajari teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), pembidaian darurat untuk patah tulang menggunakan alat seadanya, hingga metode evakuasi taktis di medan ekstrem. Sesi ini menyadarkan mereka betapa mahalnya sebuah nyawa dan pentingnya ketenangan dalam situasi darurat.
Keseriusan dan ketangguhan yang kami tunjukkan selama digembleng oleh TIM SARHID Jatim dan Basarnas rupanya mendapat perhatian khusus dari struktur wilayah. Ketua Departemen Sosial DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz Imam Muslim, yang memantau jalannya pengaderan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ketahanan fisik dan mental seluruh peserta serta dedikasi para instruktur.
Melalui pesan tertulisnya, Ustadz Imam Muslim mengaku bangga atas sinergi yang dibangun Ustadz Umar bersama jajaran Basarnas. Beliau berharap pembekalan Manajemen Pendakian dan MFR ini menjadi fondasi kuat agar kami tidak hanya menjadi pemimpin yang cerdas di atas kertas, tetapi juga responsif dan sigap menjadi relawan terdepan saat masyarakat membutuhkan pertolongan.
Kini, setelah melintasi upacara penutupan pada Ahad siang, para peserta Leaders Camp 2026 siap melangkah pulang membawa mandat baru. Pengalaman berharga di Trawas ini telah menempa mereka. mereka kembali ke kampus bukan lagi sebagai mahasiswa biasa, melainkan sebagai kader-kader pemimpin pilihan yang siap mengabdi, berdaya global, dan siap sedia berkorban demi umat.
Editor: Aminudin
