Dari Bundelan Majalah ke Ruang Kebijakan : Jejak Panjang H. Sugiantoro Bersama Hidayatullah

Dari Bundelan Majalah ke Ruang Kebijakan : Jejak Panjang H. Sugiantoro Bersama Hidayatullah

TUBAN (hidayatullahjatim.com)– Pagi itu, 3 Januari 2026, suasana Musyawarah Daerah (Musda) Hidayatullah Tuban terasa lebih hangat. Bukan sekadar karena pertemuan para kader dan simpatisan dakwah, tetapi karena hadirnya sosok yang sudah lama menjadi “keluarga jauh” Hidayatullah: H. Sugiantoro, Ketua DPRD Tuban.

Ia hadir bukan sebagai pejabat yang baru mengenal organisasi ini, melainkan sebagai seorang sahabat lama—yang hubungannya dengan Hidayatullah terjalin jauh sebelum jabatan dan sorotan publik menyertainya.

Awal Perkenalan: Majalah yang Tak Pernah Dibuang

“Saya ini sudah kenal Hidayatullah lama, sekitar tahun 1999,” ujarnya santai, seolah sedang membuka album kenangan. Perkenalan itu bukan lewat forum resmi atau kegiatan besar, melainkan melalui bacaan: Majalah Suara Hidayatullah.

Majalah itu bukan sekadar dibaca lalu dilupakan. Setiap akhir tahun, H. Sugiantoro membundelnya dengan rapi. Ia menyimpannya—menjadi arsip pemikiran, jejak zaman, sekaligus saksi perjalanan dakwah. Dari sekian rubrik, ada dua yang selalu ia tunggu: kajian utama karya Ustadz Abdurrahman dan “Jendela Keluarga” tulisan Hamim Thohari.

Bagi Sugiantoro, tulisan-tulisan itu bukan hanya informatif, tetapi membentuk cara pandang—tentang keluarga, umat, dan masa depan bangsa.

Dari Bacaan ke Kepercayaan Pendidikan

Hubungan itu kemudian naik tingkat. Pada tahun 2014, kepercayaan yang dibangun lewat bacaan berubah menjadi keputusan besar: menyekolahkan putrinya di Ar Rohmah Malang.

Ini bukan pilihan sembarangan. Bagi seorang ayah, pendidikan anak adalah pertaruhan nilai. Dan pilihannya pada lembaga yang bernafaskan Hidayatullah menjadi bukti bahwa relasi ini bukan sekadar simpatik, tetapi ideologis dan emosional.

Silaturahmi yang Konsisten, Informasi yang Hidup

Menariknya, kedekatan itu tetap terjaga secara sederhana. Informasi tentang Hidayatullah rutin ia dapatkan setiap bulan dari amil Baitul Maal Hidayatullah yang bersilaturahmi ke rumah.

Di situlah dakwah bekerja dalam bentuk paling halus: keteladanan, konsistensi, dan hubungan personal. Tidak hiruk-pikuk, tetapi berakar.

Dari Simpatisan Menjadi Mitra Strategis

Kini, sebagai Ketua DPRD Tuban, H. Sugiantoro tidak ragu menyatakan sikapnya. Ia siap membantu dan berkolaborasi dengan Hidayatullah Tuban. Rumah dan kantornya ia buka lebar untuk kader dan aktivis Hidayatullah—sebuah pernyataan yang melampaui simbolik.

Bahkan, pada tahun sebelumnya, ia telah ikut membantu pembangunan Pesantren Tahfidz Darul Hijrah Tuban. Kontribusi nyata ini menegaskan bahwa dukungannya bukan sekadar wacana, melainkan tindakan.

Epilog: Ketika Dakwah Bertemu Kebijakan

Kisah H. Sugiantoro adalah potret bagaimana dakwah yang konsisten menemukan jalannya sendiri. Dari majalah yang dibundel rapi, ke ruang pendidikan anak, hingga kini masuk ke ruang-ruang kebijakan publik.

Musda Hidayatullah Tuban hari itu bukan hanya agenda organisasi. Ia menjadi penanda bahwa jalinan panjang, yang dirawat dengan keikhlasan dan ketekunan, pada akhirnya berbuah kolaborasi—demi umat, demi daerah, dan demi masa depan yang lebih bermakna.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *