hidayatullahjatim.com – Setiap tahun kita menyaksikan sekolah-sekolah terus berkembang. Jumlah siswa bertambah, ruang kelas diperbaiki, fasilitas semakin lengkap, dan berbagai program pendidikan terus diperkuat. Semua itu tentu patut kita syukuri. Namun di tengah kesibukan membangun sekolah, ada satu pertanyaan yang perlu terus kita jaga: apa sebenarnya yang sedang kita bangun? Apakah kita hanya sedang membangun lembaga pendidikan yang baik, atau sedang menyiapkan sebuah generasi yang kelak akan membawa nilai, cita-cita, dan perjuangan Islam?
Sekolah tentu harus menghasilkan anak-anak yang cerdas. Mereka harus mampu membaca, berhitung, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, dan berbagai keterampilan yang dibutuhkan pada zamannya. Prestasi akademik juga penting. Anak-anak kita harus mempunyai kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke tempat terbaik dan mampu bersaing dalam kehidupan. Tetapi pendidikan Hidayatullah tidak boleh berhenti sampai di sana. Kita tidak hanya ingin melahirkan anak yang pintar, tetapi manusia yang memiliki arah hidup yang jelas.
Karena itu, sekolah harus menjadi tempat bertumbuhnya tauhid, Al-Qur’an, ibadah, adab, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab. Anak tidak hanya belajar tentang kehidupan, tetapi juga belajar untuk apa ia hidup. Ia perlu memahami bahwa ilmu bukan hanya jalan mendapatkan pekerjaan, tetapi amanah yang harus digunakan untuk memberi manfaat. Prestasi bukan hanya untuk kebanggaan pribadi, tetapi jalan untuk memperluas kebaikan. Kepemimpinan bukan kesempatan untuk berkuasa, tetapi kesiapan memikul tanggung jawab dan melayani orang lain.
Di sinilah kita perlu memperluas ukuran keberhasilan sekolah. Selama ini kita mudah melihat jumlah siswa, nilai ujian, prestasi lomba, fasilitas, administrasi, dan kondisi keuangan lembaga. Semua itu penting dan harus dikelola dengan baik. Namun kita juga perlu bertanya: setelah bertahun-tahun belajar di sekolah kita, apakah shalat anak semakin baik? Apakah hubungannya dengan Al-Qur’an semakin kuat? Apakah ia semakin santun kepada orang tua dan guru? Apakah ia lebih disiplin, jujur, mandiri, berani, dan bertanggung jawab?
Pertanyaan seperti ini penting karena sekolah yang besar belum tentu berhasil menjalankan misi pendidikannya. Kita bisa mempunyai banyak program, tetapi belum tentu semua program itu benar-benar membentuk anak. Kita bisa memiliki administrasi yang rapi, tetapi belum tentu budaya sekolahnya kuat. Bahkan kegiatan agama yang banyak pun dapat menjadi rutinitas apabila tidak disertai keteladanan dan pembiasaan yang sungguh-sungguh. Karena itu, tantangan kita bukan hanya menambah program, tetapi memastikan semua kegiatan sekolah berjalan menuju arah yang sama.
Kuncinya terletak pada guru dan budaya sekolah. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar di kelas, tetapi terutama dari apa yang dilihat setiap hari. Kita tidak cukup mengajarkan disiplin jika guru sendiri sering terlambat. Kita tidak cukup berbicara tentang adab jika orang dewasa di sekolah tidak memberi contoh. Kita tidak cukup meminta anak mencintai Al-Qur’an jika Al-Qur’an tidak terasa hidup dalam keseharian para pendidiknya. Karena itu, guru harus terus diperkuat, bukan hanya kemampuan mengajarnya, tetapi juga pemahaman terhadap misi pendidikan dan kesediaannya menjadi teladan.
Sekolah juga perlu memberi ruang kepada anak untuk mengalami langsung nilai yang diajarkan. Anak tidak cukup hanya mendengar nasihat tentang kepemimpinan; ia harus diberi kesempatan memimpin. Ia tidak cukup diajarkan tentang tanggung jawab; ia harus diberi amanah. Ia tidak cukup mendengar tentang pelayanan; ia harus mengalami bagaimana membantu orang lain. Kegiatan Pandu, organisasi siswa, kerja kelompok, kegiatan sosial, kehidupan asrama, tugas kebersihan, dan berbagai aktivitas sederhana dapat menjadi ruang pendidikan yang sangat kuat jika dikelola dengan arah yang jelas.
Yang tidak kalah penting adalah hubungan sekolah dan keluarga. Apa yang dibangun di sekolah akan jauh lebih kuat apabila mendapat dukungan dari rumah. Karena itu, orang tua bukan sekadar pengguna layanan pendidikan, tetapi bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Sekolah dan keluarga perlu memahami arah yang sama, sehingga anak tidak menerima pesan yang berbeda antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang dibiasakan di rumah.
Pada akhirnya, kita tidak tahu di mana anak-anak yang hari ini duduk di ruang kelas akan berada dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang. Mereka mungkin menjadi guru, dai, dokter, pengusaha, dosen, pejabat, profesional, atau pemimpin masyarakat. Mereka tidak semuanya harus bekerja di lingkungan Hidayatullah. Tetapi kita berharap satu hal: di mana pun mereka berada, tauhid tetap menjadi fondasi, Al-Qur’an menjadi pedoman, adab menjadi karakter, ilmu menjadi jalan pengabdian, dan kebermanfaatan menjadi tujuan hidup.
Itulah sebabnya sekolah tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat belajar. Sekolah adalah tempat kita menyiapkan manusia. Dan melalui manusia-manusia itulah masa depan gerakan akan diteruskan.
Amun Rowi
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur
