2.000 Kader Hadiri Silaturrahmi Syawwal, Hidayatullah Jatim Tegaskan Jati Diri Harus Terjaga Antar Generasi

2.000 Kader Hadiri Silaturrahmi Syawwal, Hidayatullah Jatim Tegaskan Jati Diri Harus Terjaga Antar Generasi

SURABAYA (hidayatullahjatim.com) – Sekitar 2.000 jamaah dan kader Hidayatullah Jawa Timur memadati Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Sabtu (28/3/2026). Dalam momentum Silaturrahmi Syawwal 1447 H ini, isu utama yang mengemuka adalah pentingnya menjaga jati diri organisasi di tengah pergantian generasi.

Mengusung tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”, kegiatan yang digelar DPW Hidayatullah Jawa Timur bersama unsur kampus, DPD, Mushida, dan pemuda itu menjadi ajang konsolidasi sekaligus refleksi arah perjuangan.

Ketua Badan Pengurus Pesantren Hidayatullah Surabaya, Marni Mulyana, menegaskan bahwa lokasi kegiatan memiliki nilai historis yang kuat dalam perjalanan Hidayatullah. Menurutnya, merawat jati diri tidak bisa dilepaskan dari kesadaran sejarah.

“Kampus Utama Hidayatullah Surabaya ini adalah cikal bakal Hidayatullah di Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali. Maka ketika kita bicara jati diri, itu bukan sesuatu yang baru, tetapi warisan yang sudah diperjuangkan sejak awal. Tugas kita hari ini adalah menjaga, merawat, dan memastikan nilai itu tetap hidup di generasi berikutnya,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowi, menyoroti tantangan internal organisasi yang kian kompleks seiring perkembangan zaman. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan organisasi harus tetap diiringi dengan penjagaan nilai.

“Kita tidak sedang kekurangan program atau aktivitas. Tetapi tantangan kita hari ini adalah bagaimana jati diri organisasi ini tetap utuh dan tidak tergerus oleh perkembangan. Jati diri itu harus kita rawat, kita jaga, dan kita wariskan secara sadar dari generasi ke generasi. Dan fondasi utama untuk itu adalah ukhuwah,” tegasnya.

Amun menambahkan, tanpa ukhuwah, proses pewarisan nilai akan terputus. “Kalau ukhuwah lemah, maka nilai tidak akan sampai. Tetapi kalau ukhuwah kuat, maka jati diri itu akan berpindah secara alami dari satu generasi ke generasi berikutnya,” imbuhnya.

Arahan DPP Hidayatullah yang disampaikan Naspi Arsyad menekankan bahwa inti dari jati diri kader terletak pada ketakwaan. Ia menyebut, jati diri bukan sekadar identitas organisasi, melainkan kualitas spiritual yang harus terus dijaga.

“Taqwa adalah jati diri seorang kader. Ini bukan hanya slogan, tetapi fondasi yang menentukan arah hidup dan perjuangan. Kalau taqwa itu kuat, maka kader akan kokoh dalam menghadapi tantangan zaman. Tetapi agar nilai ini tidak berhenti di satu generasi, maka harus dirawat melalui sinergi dan kolaborasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, sinergi bukan hanya kerja bersama, tetapi juga proses pewarisan nilai. “Dengan sinergi, yang lama membimbing yang baru, yang senior menguatkan yang muda. Di situlah jati diri itu tetap hidup dan berlanjut,” tambahnya.

Dalam sesi utama, pendiri Hidayatullah Surabaya, KH Abdul Rachman, mengingatkan bahwa jati diri kader harus selalu dikaitkan dengan misi besar dakwah Islam.

“Tugas utama kita adalah menegakkan agama ini dalam hidup dan kehidupan. Maka jati diri kader itu bukan sekadar identitas organisasi, tetapi komitmen untuk menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Kalau ini dijaga, maka generasi akan tetap berada di jalur yang benar,” tegasnya.

KH Hamim Thohari menambahkan bahwa militansi merupakan ciri khas yang tidak boleh hilang dari kader Hidayatullah. Menurutnya, militansi adalah kekuatan utama dalam menjaga kesinambungan perjuangan.

“Kader Hidayatullah itu dikenal karena militansinya. Militansi itu berarti kuat dalam prinsip, istiqamah dalam jalan dakwah, dan tidak mudah goyah oleh keadaan. Kalau militansi ini hilang, maka jati diri itu akan ikut melemah,” katanya.

Kesaksian para santri awal turut memperkuat pesan tema yang diangkat. Budi Gunawan dari DI Yogyakarta menyebut bahwa Hidayatullah telah memberinya pemahaman Islam yang utuh dan membentuk arah hidupnya.

“Saya dulu hidup berkecukupan, tetapi kosong dari nilai Islam. Ketika masuk Hidayatullah, saya menemukan Islam yang hidup, yang membentuk cara berpikir dan cara menjalani kehidupan. Karena itu, saya merasa jati diri ini harus benar-benar dijaga agar generasi berikutnya juga merasakan hal yang sama,” ujarnya.

Ismuji dari Nusa Tenggara Barat menekankan pentingnya ketaatan sebagai fondasi keberlanjutan perjuangan. “Ta’at adalah kunci istiqomah. Tanpa ketaatan, orang mudah lelah dan keluar dari jalan perjuangan. Tetapi dengan taat, kita akan terus dijaga dalam amanah ini,” katanya.

Sementara itu, Abdullah Salim dari Bali menegaskan bahwa ketaatan akan menghadirkan pertolongan Allah dalam menjalankan amanah dakwah. “Jika kita taat, maka Allah yang akan memperjalankan kita. Tugas kita adalah menjaga diri tetap lurus, sementara hasilnya Allah yang mengatur,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Hidayatullah Jawa Timur menegaskan bahwa jati diri organisasi bukan sekadar warisan historis, melainkan nilai hidup yang harus terus dijaga, dihidupkan, dan diwariskan. Di tengah dinamika zaman, ukhuwah, ketakwaan, ketaatan, dan militansi menjadi pilar utama agar perjuangan tetap berlanjut dari generasi ke generasi.

Reporter : Adib
Editor : Muh Idris

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *