Oleh: Mashud*
Pendahuluan: Momentum Muswil di Era Perubahan Besar
Munas Hidayatullah VI pada Oktober 2025 menjadi titik awal arah baru gerakan dakwah. Menjelang Muswil Hidayatullah Jawa Timur yang berlangsung pada 5–7 Desember 2025 di Malang, kebutuhan membaca ulang peta dakwah di era digital menjadi semakin mendesak.
Perkembangan ICT membuat masyarakat semakin bergantung pada ruang digital sebagai tempat belajar, berdiskusi, dan mencari informasi. Dengan lebih dari 221 juta pengguna internet di Indonesia, dan 41 juta penduduk Jawa Timur, dakwah digital bukan lagi pilihan tambahan, tetapi sebuah keharusan.
Peluang Baru di Ruang Dakwah Digital
Era digital membawa peluang luar biasa bagi dakwah. Kajian dan taushiyah kini dapat menjangkau siapa saja, kapan saja, tanpa batas geografis. Video dakwah yang dikemas kreatif dapat menyebar luas dalam waktu singkat.
Generasi muda menjadi segmen utama yang paling terbuka. Mereka menghabiskan banyak waktu di media sosial dan responsif terhadap konten visual yang ringan dan relevan. Jika dikelola dengan baik, media digital dapat menjadi jembatan efektif antara nilai-nilai Islam dan kehidupan generasi milenial dan Gen Z.
Digitalisasi juga memungkinkan terbentuknya ekosistem dakwah terintegrasi. Website, media sosial, sistem informasi kader, dan kanal donasi digital dapat saling menopang, memperkuat peran tarbiyah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.
Tantangan yang Mengintai di Balik Kemajuan Teknologi
Meski penuh peluang, ruang digital juga menghadirkan tantangan besar. Banjir informasi membuat konten dakwah harus bersaing dengan hiburan dan tren viral yang seringkali dangkal. Tanpa pengemasan profesional, dakwah mudah terpinggirkan.
Ruang digital juga menjadi tempat berkembangnya berbagai paham menyimpang: relativisme kebenaran, liberalisasi agama, hingga ekstremisme. Dai perlu tampil memberikan klarifikasi yang ilmiah, sejuk, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak semua kader memiliki literasi digital yang memadai. Editing video, desain grafis, copywriting, dan manajemen media sosial adalah kemampuan penting yang masih perlu diperkuat. Tantangan etika pun mengemuka—media sosial sering memicu debat kusir, provokasi, dan ujaran kebencian. Dakwah harus tetap menjaga adab dan akhlak sebagai identitas utama.
Menggagas Arah Baru Dakwah Hidayatullah Jawa Timur
Penguatan kapasitas dai digital menjadi langkah prioritas, mencakup public speaking digital, storytelling, editing video, serta literasi anti-hoaks.
Media resmi Hidayatullah harus dikelola secara profesional sebagai pusat informasi, rujukan pemikiran, serta etalase kegiatan umat. Jejaring relawan digital dari kalangan guru, mahasiswa, santri, dan kader muda dapat menjadi motor penggerak konten kreatif dan edukatif.
Penutup: Menyongsong Dakwah yang Lebih Kokoh dan Relevan
Era digital adalah ladang dakwah baru yang sangat luas. Dengan manhaj nabawi yang kuat, tradisi tarbiyah yang kokoh, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak, Hidayatullah Jawa Timur memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pionir dakwah digital yang kreatif, efektif, dan berkelanjutan. Semoga Muswil VI menjadi momentum lahirnya peta jalan dakwah digital yang mampu memperkuat peradaban Islam di Jawa Timur dan memberikan manfaat nyata bagi umat.
*(Pengurus DPD Hidayatullah Surabaya & Dosen STAIL)

