Transformasi Organisasi Hidayatullah: Menjaga Manhaj, Menjawab Zaman

Transformasi Organisasi Hidayatullah: Menjaga Manhaj, Menjawab Zaman

Sejarah dibangun di atas fondasi militansi, ketaatan, dan kesediaan berkhidmat tanpa banyak menuntut. Kader Hidayatullah dikenal siap ditugaskan ke mana pun, dengan spirit sami‘na wa atha‘na. Inilah modal sosial yang langka dan mahal dalam dunia organisasi.

Namun, organisasi yang tumbuh besar tidak cukup hanya ditopang oleh loyalitas dan semangat pengorbanan. Kompleksitas dakwah hari ini—pendidikan, ekonomi, media, dan advokasi sosial—menuntut kapasitas sistemik, kepemimpinan strategis, serta pengelolaan SDM yang lebih berlapis. Tantangannya adalah melakukan transformasi tanpa mencederai manhaj dan tanpa memudarkan militansi.

Transformasi Paradigma: Dari Loyalitas Struktural ke Loyalitas Misi

Dalam tradisi Hidayatullah, loyalitas adalah nilai inti. Namun, loyalitas yang sehat sejatinya bukan loyalitas personal atau struktural semata, melainkan loyalitas pada risalah, manhaj, dan tujuan dakwah.

Transformasi paradigma diperlukan agar organisasi tidak terjebak pada logika “siapa yang paling lama, paling dekat, atau paling patuh”, tetapi bergeser pada “siapa yang paling berkontribusi dan relevan bagi misi”. Loyalitas tidak ditinggalkan, tetapi dimaknai ulang sebagai kesetiaan pada arah perjuangan, bukan pada figur atau jabatan.

Dalam paradigma ini, profesionalisme tidak dipandang sebagai ancaman ideologis. Evaluasi kinerja bukan pelemahan ukhuwah. Kritik bukan tanda pembangkangan. Justru, organisasi yang ideologis adalah organisasi yang berani menata diri agar dakwahnya berdampak dan berkelanjutan.

Transformasi Kepemimpinan: Dari Karismatik-Instruktif ke Strategis-Memberdayakan

Model kepemimpinan Hidayatullah pada fase awal perjuangan bersifat karismatik dan instruktif. Figur pemimpin menjadi pusat inspirasi, penggerak, dan pengambil keputusan. Model ini efektif dalam fase pionir, ketika medan dakwah masih berat dan sumber daya terbatas.

Namun, pada fase konsolidasi dan ekspansi, kepemimpinan semacam ini berisiko melahirkan ketergantungan struktural. Organisasi berjalan karena figur, bukan karena sistem. Ketika figur melemah atau berganti, terjadi kekosongan arah.

Transformasi kepemimpinan berarti menyiapkan pemimpin yang berpikir strategis, membangun tim, dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Pemimpin tidak lagi menjadi pusat semua keputusan, tetapi pengarah visi dan penjaga nilai. Ia memfasilitasi kader agar tumbuh mandiri, bukan bergantung.

Kepemimpinan dakwah yang matang bukan yang paling banyak memberi instruksi, tetapi yang paling berhasil menyiapkan regenerasi.

Transformasi Sistem dan Tata Kelola: Tertib Tanpa Membelenggu

Kerap ada kekhawatiran bahwa profesionalisasi sistem akan menjadikan Hidayatullah kaku, birokratis, dan kehilangan kelincahan dakwah. Kekhawatiran ini valid jika sistem dibangun tanpa ruh. Namun, ketiadaan sistem justru lebih berbahaya: konflik laten, ketidakjelasan amanah, dan ketergantungan personal.

Transformasi tata kelola di Hidayatullah perlu diarahkan pada sistem yang sederhana, jelas, dan akuntabel. Transparansi keuangan, pembagian peran yang tegas, serta mekanisme evaluasi bukanlah nilai asing dalam Islam. Ia justru bagian dari amanah dan ihsan dalam bekerja.

Sistem yang sehat bukan untuk mengontrol kader, melainkan untuk melindungi organisasi dari kelelahan struktural dan konflik yang tidak perlu.

Transformasi SDM: Kader dengan Triple Competence

Kader Hidayatullah selama ini kuat secara ideologis dan militansi. Namun, tantangan dakwah hari ini menuntut lebih dari itu. Dibutuhkan kader dengan triple competence.

Pertama, kompetensi ideologis: iman yang kokoh, pemahaman manhaj yang jernih, dan keikhlasan dalam berkhidmat. Ini fondasi yang tidak boleh ditawar.

Kedua, kompetensi profesional: kemampuan manajerial, pedagogis, teknologi, dan kewirausahaan. Dakwah pendidikan, ekonomi, dan sosial membutuhkan keahlian nyata, bukan sekadar semangat.

Ketiga, kompetensi sosial: kemampuan berjejaring, beradaptasi, dan berdialog dengan masyarakat luas tanpa kehilangan identitas.

Transformasi SDM berarti kader tidak hanya disiapkan untuk taat, tetapi juga untuk kompeten dan kontributif di ruang publik.

Transformasi Kemandirian Ekonomi: Membebaskan Dakwah dari Ketergantungan

Hidayatullah memiliki pengalaman panjang 1!dalam membangun amal usaha. Namun, tantangan ke depan adalah menjadikan kemandirian ekonomi sebagai sistem, bukan sekadar inisiatif sporadis.

Ketergantungan pada donatur insidental membuat dakwah rentan dan tidak berkelanjutan. Transformasi kemandirian ekonomi menuntut model usaha yang profesional, terpisah secara manajerial, tetapi satu visi dengan dakwah.

Ekonomi dalam Hidayatullah bukan tujuan, melainkan penopang kebebasan dakwah. Ia harus dikelola dengan prinsip amanah, efisiensi, dan keberlanjutan.

Transformasi Budaya Organisasi: Dewasa, Disiplin, dan Beradab

Budaya organisasi adalah medan paling sulit untuk diubah. Namun, tanpa transformasi budaya, perubahan struktur hanya akan menjadi kosmetik.

Hidayatullah perlu menumbuhkan budaya disiplin dan produktif, tanpa kehilangan ukhuwah. Budaya terbuka terhadap kritik, tanpa kehilangan adab. Budaya evaluatif, tanpa saling mencurigai.

Organisasi dakwah yang matang bukan yang bebas konflik, tetapi yang mampu mengelola perbedaan secara dewasa dan bermartabat.

Penutup

Transformasi Hidayatullah bukanlah upaya menjauh dari manhaj, melainkan ikhtiar menjaga manhaj agar tetap hidup dan relevan. Loyalitas tetap penting, militansi tetap menjadi kekuatan, tetapi semua itu harus menemukan bentuk barunya dalam kepemimpinan yang memberdayakan, sistem yang sehat, dan kader yang kompeten.

Dakwah yang berumur panjang bukan hanya yang kuat secara spirit, tetapi yang kokoh secara organisasi. Dan di situlah ujian kedewasaan gerakan dimulai./Oleh : Muh Idris

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *