Murobbi Jawa Timur Tekankan Kemandirian kepada Kader

Murobbi Jawa Timur Tekankan Kemandirian kepada Kader

BATU (hidayatullahjatim.com) — Kemandirian kader kembali ditegaskan sebagai pilar utama dalam menjaga izzah dakwah dan ketahanan organisasi. Penekanan tersebut mengemuka dalam rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur yang digelar Ahad, 31 Januari 2026, di Kampus Hidayatullah Batu, melalui pemaparan para anggota Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Jawa Timur.

Anggota DMW Jawa Timur, Alimin Mukhtar, menegaskan bahwa kemandirian bukan sekadar isu ekonomi, melainkan bagian integral dari bangunan keimanan, akhlak, dan tanggung jawab kader dalam perjuangan dakwah. Ia menekankan bahwa Islam sejak awal telah meletakkan kerja dan usaha sebagai jalan yang sah dan mulia untuk meraih kehidupan yang bermartabat.

“Kemandirian adalah tema besar kita. Untuk sampai ke sana, syariat memerintahkan kita menempuh kasab, bekerja dan berusaha, tetapi dengan ilmu dan pemahaman yang lurus agar tidak tergelincir,” ujarnya.

Menurut Alimin, bekerja mencari rezeki tidak identik dengan cinta dunia. Dunia dalam pandangan Islam bukanlah harta atau profesi itu sendiri, melainkan keterikatan hati yang berlebihan sehingga melalaikan dari Allah dan akhirat. Karena itu, harta justru menjadi bernilai ketika ditempatkan sebagai sarana ibadah dan pengabdian.

“Yang disebut dunia tercela adalah segala sesuatu yang melalaikan dari Allah, melupakan akhirat, dan melahirkan akhlak buruk. Adapun harta yang dicari dengan cara halal dan diniatkan benar, justru menguatkan agama,” tegasnya.

Ia juga menguraikan klasifikasi hukum bekerja dalam Islam, mulai dari wajib, dianjurkan, boleh, hingga haram, bergantung pada tujuan dan orientasinya. Bekerja untuk mencukupi diri, keluarga, dan melunasi tanggungan adalah kewajiban, sementara mencari tambahan penghasilan untuk menolong sesama bernilai anjuran. Sebaliknya, kerja yang diniatkan untuk pamer dan kesombongan, meski halal secara lahiriah, tetap tercela.

Sejalan dengan itu, Anggota DMW Jawa Timur lainnya, Baihaqi, menegaskan bahwa kemandirian kader memiliki dampak langsung terhadap kualitas dakwah dan keteguhan sikap. Menurutnya, kader yang bergantung secara ekonomi akan rentan kehilangan keberanian dan kelurusan dalam bersikap.

“Dakwah membutuhkan kader yang merdeka. Ketika seseorang tidak mandiri, maka lisannya mudah tertahan, sikapnya mudah dikompromikan,” ujar Baihaqi.

Ia menambahkan bahwa tradisi kerja telah mengakar kuat dalam sejarah para nabi, sahabat, dan ulama. Mereka bekerja dengan tangan sendiri, berdagang, bertani, dan menjalani profesi yang halal, tanpa mengurangi kualitas ibadah dan kedekatan mereka kepada Allah.

“Para nabi dan ulama adalah orang-orang yang paling bertawakal, tetapi mereka juga yang paling sungguh-sungguh bekerja. Ini teladan yang harus dihidupkan kembali,” katanya.

Dalam pemaparan lain, Hebni Syarif menyoroti pentingnya meluruskan pemahaman tentang tawakal di kalangan kader. Ia menegaskan bahwa tawakal bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar, melainkan sikap batin setelah usaha maksimal dilakukan.

“Tawakal itu kerja hati, sedangkan bekerja adalah kerja fisik. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru menyatukan keduanya adalah ciri iman yang matang,” ujarnya.

Hebni juga mengingatkan bahaya sikap berpangku tangan dengan dalih ibadah atau pengabdian. Menurutnya, Islam secara tegas mencela pengangguran yang membebani orang lain atas nama tawakal.

“Langit tidak menurunkan emas dan perak. Ketika seseorang meninggalkan sebab yang halal, biasanya ia akan terjerumus pada sesuatu yang tidak halal,” tegasnya.

Kembali Alimin Mukhtar menekankan bahwa kemandirian kader merupakan prasyarat bagi kekuatan organisasi. Ketergantungan ekonomi, menurutnya, sering kali menjadi pintu masuk melemahnya integritas, hilangnya keteguhan prinsip, dan rapuhnya perjuangan jangka panjang.

“Kader yang mandiri akan lebih tenang, lebih berani, dan lebih istiqamah. Ia bekerja sungguh-sungguh, beribadah dengan ikhlas, dan bertawakal secara lurus,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa buah dari kerja halal yang dipadukan dengan tawakal yang benar adalah ketenangan jiwa, rasa cukup, dan ridha terhadap ketentuan Allah. Karakter inilah yang diharapkan tumbuh dalam diri kader Hidayatullah di semua level.

Pesan-pesan kemandirian yang disampaikan para murobbi tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam Rakerwil Hidayatullah Jawa Timur. Forum ini tidak hanya menata program kerja, tetapi juga meneguhkan kembali arah pembinaan kader agar tampil sebagai pribadi yang mandiri, bermartabat, dan mampu menghadirkan pengaruh positif bagi umat dan masyarakat luas.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *