Jatidiri : Ruh Pengorbanan dan Perjuangan

Jatidiri : Ruh Pengorbanan dan Perjuangan

Oleh : Baihaqi*

Di tengah derasnya arus zaman yang sering mengguncang nilai dan arah hidup manusia, ada satu hal yang harus tetap teguh: Jatidiri. Bagi kader Hidayatullah, jatidiri bukan sekadar nama, bukan pula sekadar lambang organisasi. Ia adalah ruh perjuangan, sumber keteguhan hati, dan nyala api yang menjaga langkah tetap lurus menuju ridha Ilahi. Jatidiri Hidayatullah tumbuh dari akar yang suci — dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di sanalah setiap kader menimba makna pengabdian, belajar tentang arti tauhid, dan menemukan arah sejati perjuangan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Kalimat itu bukan sekadar ayat yang dihafal, tetapi janji hidup seorang kader. Bahwa seluruh geraknya, langkahnya, bahkan diamnya — hanya untuk Allah. Inilah hakikat jatidiri: keikhlasan dalam berjuang dan keteguhan dalam berkorban.

Meneguhkan jatidiri berarti meneguhkan hati agar tidak goyah di tengah ujian. Ia menuntut kejujuran dalam amanah, kesabaran dalam dakwah, dan kerendahan hati dalam keberhasilan. Ia memanggil setiap kader untuk meneladani Rasulullah ﷺ — sang pemimpin agung yang penuh kasih, tegas dalam prinsip, lembut dalam dakwah, dan kukuh dalam perjuangan.

Tahun ini, Musyawarah Wilayah ke-6 Hidayatullah Jawa Timur hadir dengan tema yang menyentuh Nurani “Meneguhkan Jatidiri, Menumbuhkan Kemandirian, Menebar Kebermanfaatan.”

Tema ini bukan sekadar seruan administratif, tetapi seruan jiwa — panggilan bagi setiap kader untuk kembali menata arah perjuangan. Meneguhkan jatidiri, agar langkah dakwah tak kehilangan ruh. Menumbuhkan kemandirian, agar perjuangan tak bergantung pada dunia. Dan menebar kebermanfaatan, agar setiap amal menjadi cahaya yang menyinari umat.

Dalam perjalanan dakwah, kita menyaksikan betapa dunia terus berubah. Sekularisme, materialisme, dan individualisme terus menggerus nilai-nilai ilahi. Di sisi lain, perbedaan pandangan terkadang menguji ukhuwah. Namun di tengah tantangan itu, jatidiri harus tetap menjadi kompas dan ruh perjuangan. Dari sanalah lahir keteguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa semua pengorbanan ini bernilai di sisi Allah.

Menegakkan jatidiri bukan hanya menjaga tradisi, tapi menjaga arah hidup. Ia membentuk kader yang berilmu, berakhlak, dan berperan — yang tidak hanya sibuk dalam organisasi, tetapi hadir membawa maslahat bagi umat. Kader yang mandiri, berintegritas, dan berpikir strategis. Kader yang tidak menunggu perubahan, tetapi menjadi pelopor perubahan.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini adalah napas gerakan kita. Bahwa perjuangan Hidayatullah bukan hanya tentang struktur, tapi tentang jiwa yang hidup karena iman dan amal. Tentang kader yang berani berkorban tanpa pamrih, bekerja dalam diam, namun meninggalkan jejak kebaikan yang panjang.

Meneguhkan jatidiri adalah menjaga api perjuangan tetap menyala. Menumbuhkan kemandirian adalah memastikan nyala itu tidak padam oleh ujian dunia. Dan menebar kebermanfaatan adalah membiarkan cahaya itu menyinari umat dan bangsa.

Maka, dalam setiap langkah dakwah, dalam setiap amal dan musyawarah, marilah kita hidupkan kembali ruh itu —ruh yang membuat kita berjuang bukan karena siapa-siapa,tetapi semata-mata karena Allah semata.

*Anggota DMW Hidayatullah Jawa Timur

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *