Murobbi Hidayatullah Jatim Ingatkan Makna Al Harokah Al Jihadiyah Al Islamiyah

Murobbi Hidayatullah Jatim Ingatkan Makna Al Harokah Al Jihadiyah Al Islamiyah

Batu (hidayatullahjatim.com) — Para Murobbi Hidayatullah Jawa Timur mengingatkan kembali makna Al Harokah Al Jihadiyah Al Islamiyah sebagai identitas dan jalan perjuangan organisasi. Pesan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kota Batu, Jumat, 30 Januari 2026, dan dihadiri 261 pengurus Hidayatullah dari seluruh Jawa Timur.

Ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Jawa Timur, Muhammad Juweni, dalam pengantar materi menegaskan bahwa Al Harokah Al Jihadiyah tidak boleh dipahami secara sempit maupun simbolik. Menurut dia, konsep tersebut merupakan ruh perjuangan yang harus hadir dalam seluruh aktivitas kader, apa pun profesi dan peran yang dijalani.

“Al Harokah Al Jihadiyah adalah gerakan hidup. Ia menuntut kesungguhan total dalam mengamalkan Islam, bukan hanya dalam medan tertentu, tetapi dalam seluruh lini kehidupan,” kata Juweni di hadapan peserta Rakerwil.

Ia menilai, tantangan organisasi hari ini bukan terletak pada kekurangan struktur atau program, melainkan pada konsistensi menjaga orientasi perjuangan. Karena itu, Rakerwil perlu dimaknai sebagai ruang muhasabah ideologis agar aktivitas organisasi tidak terlepas dari makna jihad fii sabilillah.

Pemateri utama, Muhammad Syuhud, anggota DMW Jawa Timur, melanjutkan dengan menekankan bahwa jihad fii sabilillah merupakan amal puncak dalam Islam, yang harus menjadi landasan seluruh gerak kader Hidayatullah.

“Tidak ada amal yang pahalanya sepadan dengan jihad fii sabilillah. Karena itu, yang terpenting adalah memastikan setiap profesi—guru, dai, pengelola lembaga, pengusaha, maupun pengurus—dijalani dengan niat jihad,” ujar Syuhud.

Menurutnya, jihad tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam kesungguhan, kesiapan, dan keteguhan niat untuk terus berada di jalan perjuangan. Bahkan dalam kondisi damai, kesiapsiagaan ideologis dan spiritual tetap menjadi bagian dari jihad itu sendiri.

Syuhud juga menegaskan bahwa keberadaan dalam organisasi perjuangan seperti Hidayatullah bukan sekadar keanggotaan struktural, melainkan pilihan sadar untuk hidup dalam barisan dakwah dan tarbiyah jangka panjang.

“Berada dalam Al Harokah Al Jihadiyah berarti siap berproses, siap berkorban, dan siap istiqamah, meski hasilnya tidak selalu instan,” katanya.

Dalam pemaparannya, Syuhud mengaitkan makna jihad tersebut dengan manhaj Sistematika Wahyu yang menjadi dasar gerakan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa perjuangan Islam harus dibangun secara bertahap, mengikuti pola turunnya wahyu, dimulai dari penguatan akidah dan kepribadian sebelum menuju bangunan peradaban.

“Wahyu Makkiyah adalah pondasi dan kerangka. Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan. Ini pelajaran bahwa jihad adalah proses panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi,” ujarnya.

Meski membawa semangat jihad, para Murobbi menegaskan bahwa Hidayatullah tetap menempatkan diri sebagai ormas yang wasathiyah. Posisi ini dipandang penting agar gerakan jihad tetap menghadirkan keseimbangan, hikmah, dan fungsi pemersatu umat.

“Hidayatullah berada di tengah, bukan di pinggiran ekstrem. Perannya adalah merekatkan ukhuwah dan menyatukan jamaah-jamaah yang memiliki semangat toleran dan siap bekerja sama dalam kebaikan,” kata Syuhud.

Rakerwil Hidayatullah Jawa Timur ini tidak hanya membahas evaluasi dan rencana program kerja lima tahun ke depan, tetapi juga menjadi forum penguatan kembali ruh ideologis organisasi. Melalui forum ini, para Murobbi menegaskan bahwa Al Harokah Al Jihadiyah harus terus dimaknai sebagai jalan hidup, yang menjiwai seluruh profesi dan pengabdian kader di mana pun berada.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *