Senin, 27 Juli 2026. Pagi masih muda ketika mobil yang kami tumpangi meninggalkan Surabaya. Tujuan kami Lumajang. Hari ini saya mengantar Bang Alfan, Alumni STAIL yang barusan mendapatkan SK ke tempat tugas barunya.
Perjalanan ke Lumajang selalu punya rasa yang berbeda. Ada daerah yang kita datangi karena urusan pekerjaan. Ada daerah yang kita datangi karena kewajiban. Tetapi ada pula daerah yang selalu membawa kita kembali pada kenangan, seolah jalan yang dilalui ikut bercerita. Lumajang, bagi saya, termasuk yang terakhir.
Di sanalah berdiri Hidayatullah Lumajang dengan Yayasan Al Hikmah sebagai payung amal usahanya. Sebuah tempat yang mengajarkan kepada saya bahwa membangun lembaga ternyata lebih banyak membutuhkan kesabaran daripada kecerdasan, lebih banyak membutuhkan keteguhan daripada kemudahan.
Mobil terus melaju. Ingatan saya pun melompat enam tahun ke belakang. Awal tahun 2020. DPW Hidayatullah Jawa Timur sedang melakukan penataan kepengurusan DPD se-Jawa Timur. Ada yang melanjutkan amanah. Ada yang dimutasi. Ada yang dirotasi. Ada pula yang harus diganti karena organisasi membutuhkan energi baru.
Salah satu daerah yang menjadi perhatian serius waktu itu adalah Lumajang. Laporan yang kami terima tidak menggembirakan. Kepengurusan organisasi mengalami kevakuman. Aktivitas dakwah mulai menurun. Amal usaha berjalan tidak seperti yang diharapkan.
Rapat berlangsung cukup lama. Berbagai pertimbangan disampaikan. Pada akhirnya disepakati bahwa Lumajang membutuhkan nahkoda baru. Saat itu saya baru mengemban amanah sebagai Sekretaris DPW.
Terus terang, pengetahuan saya tentang peta besar Hidayatullah Jawa Timur masih sangat terbatas. Saya belum mengenal semua kader. Banyak nama yang masih asing. Antara nama, wajah, dan daerah penugasan sering kali belum tersambung di kepala saya.
Saya masih belajar mengenal rumah besar ini. Karena itu, ketika rapat memutuskan beberapa nama kandidat, saya hanya menjalankan tugas yang diberikan: menghubungi mereka.
Nama pertama yang harus saya hubungi adalah Ustaz Agus. Saya meminta nomor telepon kepada bagian administrasi. Nomor diberikan. Saya langsung menelepon.
Belum banyak berbasa-basi, saya menyampaikan maksud telepon itu. Di luar dugaan, jawabannya sangat cepat.
“Siap.”
Saya sedikit lega. Beliau bahkan mulai membicarakan persiapan keberangkatan ke Lumajang. Dalam hati saya berkata, “Masyaallah… ternyata masih banyak kader yang begitu ringan mengucapkan siap ketika dipanggil.”
Beberapa menit kemudian, suasana berubah. Bagian administrasi datang sambil berkata pelan, “Maaf Ustadz… sepertinya nomor yang tadi diberikan salah.”
Saya terdiam. Ternyata saya menghubungi Agus yang lain. Bukan Agus yang dimaksud dalam rapat.
Saya hanya bisa tersenyum malu. Yang membuat saya semakin terharu, Agus yang salah nomor itu sama sekali tidak marah. Ia bahkan telah mempersiapkan diri untuk menerima amanah yang sebenarnya bukan ditujukan kepadanya.
Saya segera menghubunginya kembali. Meminta maaf atas kekeliruan itu. Beliau hanya tertawa kecil. Seolah ingin mengatakan, kalau memang itu amanah, ia siap berangkat.
Saya lalu menghubungi Agus yang sebenarnya. Beliau menyampaikan bahwa untuk saat itu beliau belum dapat menerima amanah tersebut karena pertimbangan syar’i yang beliau yakini.
Kami menghormati keputusan itu. Pilihan kemudian beralih kepada Ustaz Muallimin.
Jawabannya singkat.
“Insyaallah, siap.”
Tidak ada pidato panjang. Tidak ada syarat. Hanya satu kalimat yang sederhana. Tetapi saya tahu, di balik satu kalimat itu ada keluarga yang harus menyesuaikan diri. Ada kehidupan yang harus dimulai kembali. Ada kenyamanan yang harus ditinggalkan.
Beberapa hari kemudian, Ustaz Muallimin diantar oleh beberapa ustadz dari tempat tugas sebelumnya menuju Lumajang. Saya tidak ikut mengantarnya.
Baru beberapa waktu setelah beliau mulai bertugas, saya datang ke Lumajang untuk melihat langsung kondisi yang sebenarnya. Saya masih ingat suasana hari itu. Kami memasuki halaman kampus. Sunyi. Sangat sunyi. Ruang yang sedianya dipakai untuk menginap kosong. Pengurus sebelumnya sedang tidak berada di tempat. Tidak ada keramaian.
Tidak ada aktivitas yang menggambarkan sebuah lembaga yang sedang bertumbuh. Yang ada hanya keheningan.
Saya membatin, “Dari sinilah semuanya harus dimulai.”
Tidak mudah memulai dari keadaan seperti itu. Lebih sulit lagi ketika harus diterima oleh kader-kader yang sudah lebih dulu berada di sana.
Membangun gedung mungkin bisa dihitung dengan anggaran. Tetapi membangun kepercayaan, tidak ada rumusnya. Ustaz Muallimin memahami itu. Beliau tidak sibuk menjelaskan siapa dirinya. Tidak sibuk menunjukkan pengalaman penugasannya yang pernah berpindah dari Surabaya, Lumajang, Jakarta, Probolinggo, Banyuwangi, hingga akhirnya kembali ke Lumajang.
Beliau memilih bekerja. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Prinsipnya sederhana. Kerjakan apa yang mampu dikerjakan. Jangan terlalu lama memikirkan apa yang belum ada. Fokuslah pada apa yang bisa dilakukan hari ini. Struktur organisasi mulai dibentuk. Program-program darurat dijalankan. Manajemen ditata perlahan. Sumber-sumber pendanaan diperluas. Program sosial digerakkan. Hubungan dengan masyarakat diperkuat. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Tetapi ada satu hal yang terus bertambah setiap hari. Kepercayaan.
Hari ini…Enam tahun kemudian…Saya kembali memasuki halaman kampus yang sama. Saya hampir tidak mengenalinya. Gedung kelas bertambah. Asrama lama telah dibongkar dan sedang dibangun kembali dengan desain yang jauh lebih representatif. Lingkungan kampus ditata lebih rapi.
Gradasi warna bangunan membuat suasana terasa hangat. Halaman yang dulu tampak lengang kini terlihat hidup. Memang bukan kampus yang luas. Tetapi setiap sudutnya memancarkan semangat. Saya berdiri cukup lama memandanginya. Lalu tanpa sadar teringat suasana pertama kali saya datang enam tahun lalu. Betapa jauhnya perjalanan itu. Perubahan ternyata tidak selalu lahir dari gebrakan besar. Ia lahir dari kesabaran mengerjakan hal-hal kecil, setiap hari, tanpa lelah.
Hari ini saya mengantar Bang Alfan. Mungkin beberapa tahun lagi akan ada orang lain yang mengantarkan kader berikutnya. Begitulah dakwah. Ia bukan tentang siapa yang datang lebih dulu atau siapa yang paling lama tinggal. Ia adalah estafet. Seseorang memulai. Yang lain melanjutkan. Lalu generasi berikutnya menyempurnakan.
Perjalanan menuju Lumajang pagi ini akhirnya mengingatkan saya pada satu pelajaran yang sangat berharga. Selama ini orang sering mengira kami mengirim kader untuk membantu suatu daerah. Sesungguhnya tidak. Kami justru mengirim mereka untuk belajar. Belajar bahwa loyalitas tidak diukur dari banyaknya kata-kata, tetapi dari kesediaan melangkah ketika dipanggil. Belajar bahwa ketaatan kepada keputusan jamaah sering kali lebih berat daripada menyampaikan keputusan itu sendiri. Belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dengan fasilitas yang lengkap.
Sering kali, ia dimulai dari hati yang ikhlas menerima amanah, lalu bekerja semampunya. Lumajang mengajarkan itu kepada saya. Dan setiap kali saya kembali ke sana, saya selalu percaya, bangunan yang paling kokoh bukanlah gedung yang berdiri di atas pondasi beton. Melainkan hati orang-orang yang tetap memilih berkata,
“Insyaallah… saya siap.”
